TVRINews – Kyiv
Serangan udara lintas batas kembali memakan korban jiwa dari kalangan sipil di Rusia dan Ukraina, memicu kekhawatiran global atas keselamatan jalur pelayaran Laut Hitam.
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina kembali menelan korban dari kalangan warga sipil. Dalam insiden terpisah yang terjadi pada Selasa 4 Agustus 2026, kedua negara saling melempar tuduhan atas serangan pesawat nirawak atau drone yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa di wilayah masing-masing.
Otoritas di kawasan Moskow melaporkan lima orang tewas akibat serangan drone Ukraina. Di sisi lain, pemerintah Ukraina menyatakan jumlah korban jiwa yang sama, termasuk dua anak-anak, juga jatuh di berbagai wilayah akibat gempuran militer Rusia.
Sejak invasi skala penuh diluncurkan oleh Kremlin lebih dari empat tahun lalu, Ukraina secara konsisten mengembangkan teknologi drone jarak jauh. Langkah ini diambil untuk menghantam infrastruktur vital di dalam wilayah Rusia, termasuk fasilitas minyak dan depo penyimpanan utama.
Berdasarkan laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis bulan lalu, lebih dari 16.000 warga sipil telah tewas sejak perang ini meletus. Sebagian besar korban tercatat berada di wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah Ukraina, dengan tren korban jiwa yang terus meningkat setiap tahunnya.
Menanggapi situasi yang kian memprihatinkan ini, badan anak-anak PBB, UNICEF, mengeluarkan seruan tegas pada hari Selasa. PBB mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional yang mewajibkan perlindungan terhadap anak-anak.
"Serangan yang membunuh dan melukai anak-anak harus dihentikan," demikian pernyataan resmi UNICEF, menyoroti insiden mematikan di wilayah Belgorod dan Krasnodar di Rusia, serta wilayah Dnipropetrovsk dan Sumy di Ukraina.
Selain korban jiwa di darat, eskalasi serangan terhadap kapal-kapal kargo di Laut Hitam turut memicu kecemasan internasional. Insiden ini dinilai dapat kembali mengancam stabilitas ketahanan pangan global.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mempublikasikan sebuah rekaman video melalui media sosial. Video tersebut memperlihatkan sebuah drone Rusia yang diduga memburu seorang pedagang sayur di jalanan kota Kherson.
"Dunia harus melihat ini," ujar Zelenskyy. "Dunia harus melihat setiap bukti bahwa Rusia telah kehilangan akal sehatnya dan para prajuritnya menikmati tindakan membunuh serta menganiaya warga sipil."
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan tanggapan resmi ketika dimintai konfirmasi oleh Associated Press. Di sisi lain, Kejaksaan Agung Ukraina mencatat bahwa sejak perang dimulai, serangan drone terhadap warga sipil telah merenggut 967 nyawa, termasuk 10 anak-anak, serta melukai hampir 7.000 orang. Sebuah komisi PBB pada Oktober 2025 bahkan menyimpulkan bahwa pola serangan semacam itu telah memenuhi unsur kejahatan kemanusiaan.
Di arena diplomasi internasional, Turki kembali menyuarakan desakan agar Moskow dan Kyiv menjamin keamanan jalur pelayaran di Laut Hitam. Seruan ini disampaikan setelah dua kapal milik perusahaan Turki menjadi sasaran serangan drone usai bertolak dari pelabuhan Novorossiysk, Rusia.
Kementerian Luar Negeri Turki memperingatkan bahwa penyebaran konflik ke perairan Laut Hitam mengancam keselamatan kapal niaga. Situasi ini dikhawatirkan berdampak luas terhadap rantai pasokan global, terutama distribusi komoditas pangan penting seperti biji-bijian dan pupuk dunia.









