TVRINews – New York
Saham Teknologi Dorong Kenaikan Pasar Menjelang Rilis Laporan Keuangan.
Pasar saham global dan bursa Wall Street mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa 27 Oktober 2026, didorong olehoptimisme investor terhadap laporan keuangan emiten teknologi besar. Sentimen positif ini turut ditopang oleh meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang menekan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan dara Bursa Walls Street, Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat tipis 0,03 persen di level 52.377,57, sementara S&P 500 naik 0,60 persen ke posisi 7.722,60. Konduktor utama penguatan pasar dipimpin oleh Nasdaq Composite yang melesat 1,18 persen menjadi 26.477.81, seiring tingginya minat beli pada saham-saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Di samping itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 turut menorehkan kenaikan positif sebesar 1,2 persen untuk hari kedua berturut-turut.
Penguatan pasar modal ini terjadi di tengah antisipasi pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta serangkaian laporan keuangan dari raksasa teknologi yang dikenal sebagai AI hyperscalers, seperti Microsoft, Amazon, dan Alphabet.
Para investor menantikan kejelasan mengenai efektivitas serta tingkat pengembalian investasi dari belanja modal besar yang telah digelontorkan perusahaan-perusahaan tersebut pada sektor teknologi mutakhir.
Menurut Sahak Manuelian, Managing Director for Global Equities Sales and Trading di Wedbush Securities, perkembangan seputar teknologi kecerdasan buatan memberikan angin segar bagi para pelaku pasar serta menstabilkan pasar obligasi.
"Berita mengenai kecerdasan buatan memberikan ruang gerak bagi para pelaku pasar dan menenangkan pasar obligasi. Hal itu sangat membantu, dan kita melihat kinerja saham-saham berkapitalisasi kecil mulai membaik," ujar Sahak Manuelian dalam catatan risetnya.
Selain faktor teknologi, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Harga minyak mentah dunia terkoreksi signifikan hingga mendekati level dua dolar AS per barel, menyusul sinyal positif dari prospek perundingan damai di Timur Tengah. Penurunan harga komoditas energi ini dinilai memberikan dampak positif bagi stabilitas biaya korporasi secara keseluruhan.
"Tampaknya ada lebih banyak pembicaraan mengenai upaya mencari solusi atas konflik di Timur Tengah. Siapa tahu apa arti semua itu, namun terlepas dari hal tersebut, harga minyak mentah sedang melemah dan itu menjadi sentimen positif bagi pasar saham," kata Manuelian menambahkan.
Sementara itu, dari ranah kebijakan moneter, para pejabat bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan pekan ini. Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap mencermati secara seksama pernyataan resmi bank sentral guna memperoleh petunjuk arah kebijakan suku bunga lanjutan pada bulan-bulan mendatang.










