TVRINews – Tel Aviv
Exit Poll Tunjukkan Penolakan Keras Politik Netanyahu.
Pemilihan umum nasional Israel yang diselenggarakan pada Selasa, 27 Oktober 2026 membawa gelombang ketidakpastian politik yang cukup dalam bagi masa depan pemerintahan negara tersebut.
Berdasarkan hasil hitung cepat atau exit poll yang dirilis oleh sejumlah stasiun televisi utama Israel, blok politik pimpinan Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu mengalami kemunduran signifikan.
Sejumlah lembaga survei mencatat bahwa kubu oposisi berhasil mengamankan mayoritas kursi di parlemen, meski koalisi yang solid masih memerlukan proses perundingan yang panjang dan penuh dinamika.
Hasil jajak pendapat tersebut menempatkan blok pendukung Netanyahu pada perolehan sekitar 50 kursi di parlemen. Sementara itu, pihak oposisi mengantongi sekitar 52 kursi, dan partai-partai yang mewakili aspirasi warga Arab di Israel meraih sekitar 18 kursi.
Perolehan suara yang terpecah ini membuka peluang terjadinya negosiasi politik yang alot selama beberapa pekan ke depan, sebelum pengumuman resmi perdana menteri baru atau opsi pemilu lanjutan ditentukan.
Merespons hasil tersebut, mantan kepala staf militer sekaligus tokoh oposisi utama, Gadi Eisenkot, menyatakan bahwa angka-angka dari exit poll mencerminkan ketidakpercayaan publik yang masif terhadap kepemimpinan Netanyahu. Eisenkot menegaskan komitmennya untuk segera membangun pemerintahan baru.
"Saya akan bertindak segera untuk melaksanakan mandat rakyat, menggantikan pemerintahan Netanyahu, dan membentuk pemerintahan Zionis yang berkomitmen pada wajib militer sesegera mungkin," ujar Gadi Eisenkot dalam pernyataan resminya, sebagaimana dikutip dari kantor berita Associated Press, Rabu, 28 Oktober 2026.
Pemilu kali ini menjadi ajang pertarungan politik pertama bagi Israel sejak eskalasi konflik besar pecah pada 7 Oktober 2023 lalu. Dominasi kekuasaan Netanyahu yang telah berkuasa selama hampir 17 tahun berturut-turut diuji oleh gelombang perpecahan sosial yang semakin tajam di tengah masyarakat.
Perang berkepanjangan di Jalur Gaza, Lebanon, serta ketegangan di kawasan Tepi Barat dan Iran telah memberikan tekanan berat terhadap stabilitas domestik maupun hubungan diplomatik internasional Israel.
Di sisi lain, para pendukung setia Netanyahu memandang sang petahana sebagai figur negarawan yang tangguh dalam menjaga keamanan nasional serta identitas Yahudi di tengah tekanan global.
Sebaliknya, para kritikus menilai bahwa kebijakan dan penanganan krisis yang dilakukan oleh Netanyahu justru memperlemah fondasi demokrasi domestik serta memperburuk isolasi politik Israel di kancah internasional.
Proses pembentukan koalisi pemerintahan selanjutnya diperkirakan akan menghadapi tantangan besar, termasuk potensi negosiasi antara faksi oposisi dengan partai-partai Arab. Apabila kebuntuan politik kembali berulang dan tidak ada satupun kubu yang mampu membentuk mayoritas stabil, spekulasi mengenai penyelenggaraan pemilu baru pada awal tahun depan tetap terbuka lebar.










