TVRINews – Tel Aviv
Dunia Internasional Mengecam Perlakuan Terhadap Tahanan, Sekutu Utama Beri Peringatan Keras
Pemerintah Israel mulai mendeportasi ratusan aktivis internasional yang ditahan oleh pasukan keamanan setelah pencegatan armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza awal pekan ini. Langkah kilat ini diambil di tengah gelombang kecaman global yang kian meluas, termasuk dari sejumlah negara sekutu utama Israel.
Menurut laporan dari lembaga hukum Legal Center for Arab Minority Rights in Israel (Adalah) kepada Al Jazeera, Kamis 21 mei 2026, sebagian besar dari sekitar 430 aktivis yang ditahan kini dipindahkan menuju Bandara Ramon di wilayah selatan Israel untuk segera dipulangkan ke negara asal.
Sementara itu, sebagian aktivis lainnya akan diberangkatkan melalui Bandara Ben Gurion di Tel Aviv.
Proses deportasi ini menyusul insiden pada Selasa malam, ketika pasukan Israel mencegat kapal-kapal terakhir dari total lebih dari 50 kapal dalam iring-iringan Global Sumud Flotilla saat berlayar di perairan internasional menuju Jalur Gaza.
Kecaman Global atas Pelanggaran Hukum Internasional
Tindakan penahanan tersebut memicu reaksi keras dari panggung diplomasi global. Menteri Luar Negeri dari sepuluh negara termasuk Spanyol, Brasil, dan India mengeluarkan pernyataan bersama yang mengkritik keras operasi militer tersebut sebagai bentuk "pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional."
Tekanan diplomatik terhadap Tel Aviv semakin meningkat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, mengunggah sebuah video di platform media sosial X.
Video tersebut memperlihatkan dirinya tengah mencemooh para aktivis yang sedang berlutut di lantai dengan tangan terikat ke belakang.
Unggahan tersebut memicu kemarahan dari negara-negara Barat. Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal, dan Belanda langsung memanggil duta besar Israel di ibu kota masing-masing untuk menyampaikan nota protes keras.
Di tingkat regional, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyatakan dirinya "sangat terpukul" oleh tindakan Ben-Gvir dan menyebut perilaku tersebut "sama sekali tidak dapat diterima."
"Ini menunjukkan betapa otoritas Israel ingin menjadikan insiden ini sebagai tontonan. Tindakan ini merupakan perpanjangan dari bagaimana perlakuan Israel terhadap warga Palestina, yang selama ini jarang mendapat sorotan publik sebesar ini," ujar Miriam Azem, Koordinator Advokasi Internasional di Adalah.
Upaya Evakuasi dan Dampak Diplomasi
Sebagai respons terhadap situasi ini, Pemerintah Turki mengumumkan telah mengirimkan penerbangan sewa (chartered flights) ke Israel untuk menjemput warga negaranya serta warga negara ketiga, termasuk warga negara Spanyol.
Di sisi lain, Yordania mengonfirmasi bahwa dua warga negaranya telah berhasil kembali ke tanah air melalui pintu perbatasan selatan.
Melaporkan dari Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, koresponden media internasional mencatat bahwa proses deportasi kali ini berjalan dalam tempo yang jauh lebih cepat dibandingkan prosedur serupa yang pernah dilakukan Israel sebelumnya.
Langkah tergesa-gesa ini dinilai sebagai upaya Tel Aviv untuk membatasi kerusakan reputasi (public relations damage) akibat dampak dari video yang diunggah oleh Ben-Gvir.
Di antara ratusan demonstran yang ditahan, terdapat seorang warga negara Israel bernama Zohar Regev. Ia dijadwalkan menghadiri persidangan di Ashkelon atas tuduhan memasuki wilayah Israel secara ilegal.
Pengamat di lapangan menilai bahwa reaksi keras dari Tel Aviv merefleksikan kecemasan yang mendalam dari otoritas domestik.
Kehadiran armada bantuan internasional secara konsisten dipandang sebagai tantangan terbuka yang dapat mengikis narasi diplomatik dan citra politik Israel di mata dunia.










