TVRINews – Washington DC
Serangan udara awal perang dilaporkan bertujuan membebaskan Mahmoud Ahmadinejad untuk menggulingkan rezim Teheran.
Upaya Amerika Serikat dan Israel dalam merombak peta politik di Teheran kini menghadapi pertanyaan baru.
Sebuah laporan investigasi mengungkap adanya skenario sekutu untuk menempatkan mantan presiden populis Iran, Mahmoud Ahmadinejad, kembali ke tampuk kekuasaan.
Berdasarkan laporan The New York Times, Israel sempat melancarkan serangan udara ke sebuah gedung keamanan di dekat kediaman Ahmadinejad di Teheran.
Operasi militer tersebut diduga kuat bertujuan untuk membebaskannya dari tahanan rumah di tengah situasi kekacauan perang. Namun, mantan pemimpin bertangan besi itu dilaporkan enggan melanjutkan rencana tersebut.
Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai kalkulasi yang keliru. Rencana tersebut memperlihatkan bagaimana Washington dan Tel Aviv terlalu melebih-lebihkan kekuatan oposisi domestik di Iran, sekaligus terlalu percaya diri terhadap efektivitas serangan udara dalam meruntuhkan sebuah rezim.
Dinamika Gedung Putih dan Tekanan Domestik
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tengah berada di bawah tekanan domestik akibat melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Kendati sempat berencana menarik diri dari eskalasi, Trump dilaporkan tetap mempertimbangkan serangan udara tambahan demi memaksa Teheran tunduk pada kesepakatan baru.
Pada awal pekan, Trump sempat menyatakan penundaan serangan menyusul adanya intervensi dan masukan dari para pemimpin negara-negara Teluk.
Meski demikian, koordinasi intensif terus berjalan. Trump diketahui melakukan pembicaraan telepon panjang dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, guna membahas potensi pembukaan kembali koridor pertempuran.
Saat dikonfirmasi mengenai komitmen sekutunya, Trump menegaskan posisi tawar Washington terhadap Tel Aviv.
"Netanyahu akan melakukan apa pun yang saya minta. Dia pria yang hebat, bagi saya dia adalah pria yang sangat baik," ujar Trump kepada wartawan pada Rabu 20 Mei waktu setempat.
Mengenai ketegangan di jalur perdagangan global, Trump menekankan bahwa prioritas utamanya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia juga menepis anggapan bahwa keputusannya disetir oleh tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu (midterms).
"Saya tidak terburu-buru. Semua orang membicarakan pemilu paruh waktu, tetapi saya santai saja. Secara ideal, saya lebih memilih melihat korban jiwa yang seminimal mungkin jika konflik harus berlanjut," tambahnya.
Kebuntuan Diplomatik dan Blokade Jalur Laut
Pemerintah Iran tetap bergeming terhadap tuntutan Washington terkait pembatasan pengayaan uranium domestik.
Teheran berupaya menunda negosiasi program nuklir jangka panjang dan memilih fokus pada tuntutan pencabutan sanksi ekonomi, sebagai kompensasi atas pembukaan kembali blokade Selat Hormuz.
Merespons hal itu, AS menerapkan blokade tandingan di pelabuhan-pelabuhan utama Iran guna memutus rantai ekspor minyak mentah, yang sebagian besar dialokasikan menuju China sebagai mitra dagang terbesar mereka.
Menanggapi tekanan ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan akan memperluas jangkauan perang ke luar kawasan jika Trump kembali menginstruksikan agresi militer.
Skeptisisme di Teheran
Di Teheran, media lokal menanggapi laporan media AS tersebut dengan nada skeptis. Otoritas setempat membantah klaim yang menyebut mantan presiden mereka berada di bawah status tahanan rumah.
Kendati demikian, catatan visual satelit mengonfirmasi bahwa dalam serangan udara pada 28 Februari silam, sebuah pos keamanan di luar kediaman Ahmadinejad di wilayah Narmak, timur laut Teheran, hancur total.
Laporan resmi pasca-serangan menyebutkan Ahmadinejad hanya mengalami luka ringan, sementara sejumlah pengawal pribadinya tewas.
Skenario menjadikan Ahmadinejad sebagai sekutu dinilai ironis oleh para analis Barat. Sepanjang masa jabatannya pada 2005 hingga 2013, ia dikenal lewat retorika kerasnya yang anti-Israel serta penolakan terhadap narasi Holocaust.
Namun, lanskap politiknya berubah setelah ia berselisih dengan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei pada 2011, yang perlahan mengikis pengaruh politiknya di dalam negeri.
Ahmadinejad sempat ditangkap pada 2018 setelah melayangkan kritik tajam terhadap pemerintahan Hassan Rouhani.
"Beberapa pemimpin saat ini hidup terputus dari masalah dan kekhawatiran rakyat, mereka tidak tahu apa-apa tentang realitas di masyarakat," kata Ahmadinejad saat itu.
Setelah berulang kali dilarang mencalonkan diri kembali dalam pemilu termasuk pada pemilu 2024 Ahmadinejad memilih menarik diri dari panggung utama.
Sikap politiknya bertransformasi secara signifikan; ia bahkan tercatat melakukan kunjungan ke Hongaria yang dikenal pro-Israel pada Juni tahun lalu untuk memberikan kuliah umum, sebuah perjalanan luar negeri langka yang diyakini telah mendapat restu khusus dari otoritas pemerintahan.










