TVRINews – Garden City
Ketegangan Washington dan Teheran Memuncak Usai Konflik Militer.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan mengejutkan di hadapan para pendukungnya di New York. Ia mengisyaratkan ambisi Washington untuk mengambil alih kendali penuh atas jalur maritim strategis di Timur Tengah setelah konflik dengan Teheran mereda.
Di tengah eskalasi geopolitik yang terus membayangi pasar energi global, Trump menyatakan bahwa pemerintahannya berencana menetapkan Selat Hormuz sebagai bagian dari teritori Amerika Serikat.
"Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang kini sedang mengalami kekalahan telak dalam waktu dekat saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ujar Trump di hadapan akademi kepolisian setempat Jumat 14 Agustus 2026, seraya menegaskan kembali klaim tersebut dengan nada optimistis.
Langkah militer AS dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari lalu bertujuan untuk menghentikan program nuklir Iran serta memicu perubahan rezim dari dalam negeri. Kendati demikian, Teheran merespons operasi tersebut dengan memegang kendali de facto atas sebagian besar perairan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Hingga kini, kebuntuan masih menyelimuti kawasan tersebut. Angkatan Laut AS memberlakukan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan perekonomian negara tersebut, sementara Teheran membatasi akses bagi sebagian besar kapal sipil komersial.
"Kami memberlakukan blokade. Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali atas izin kami," kata Trump di hadapan massa yang menyambutnya dengan meriah.
Di sisi lain, kebijakan ini memicu konsekuensi ekonomi domestik yang signifikan. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan oleh masyarakat AS, sebuah situasi yang bertolak belakang dengan janji kampanye awal Trump untuk menurunkan biaya energi. Isu ini pun mulai dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk menyerang petahana menjelang pemilihan umum paruh waktu pada November mendatang.
Menanggapi tekanan politik tersebut, Trump meminta warga Amerika untuk bersikap realistis demi keamanan global jangka panjang. Ia menilai sedikit kenaikan harga energi merupakan pengorbanan yang wajar untuk mencegah ancaman nuklir.
"Apa yang kami lakukan adalah jasa besar bagi dunia, bukan hanya untuk diri kami sendiri... dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang luar biasa," ucap Trump, sekaligus menegaskan bahwa ia tidak akan pernah meminta maaf atas keputusan militer yang diambil terhadap Iran.










