TVRInews - Beirut
Eskalasi Militer Meningkat Jelang Pertemuan Diplomatik di Washington.
Situasi di perbatasan Lebanon kembali memanas setelah serangan udara militer Israel menghantam sebuah pemukiman di wilayah selatan pada Senin malam 11 mei 2026 waktu setempat.
Insiden ini menambah deretan panjang pelanggaran gencatan senjata yang diprakarsai Amerika Serikat, yang kini dinilai banyak pihak hanya eksis di atas kertas.
Menurut laporan National News Agency (NNA) Lebanon, serangan tersebut menyasar sebuah rumah di kotamadya Kfar Dounin, sekitar 100 kilometer selatan Beirut.
Selain enam korban jiwa, tujuh warga yang terluka dievakuasi ke pusat medis di kota pesisir Tyre untuk mendapatkan perawatan intensif.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Meski kesepakatan penghentian permusuhan telah diupayakan sejak 16 April, konfrontasi fisik di lapangan justru menunjukkan tren peningkatan.
Angkatan Udara Israel mengeklaim telah menargetkan lebih dari 1.100 lokasi di Lebanon sejak periode "gencatan senjata" dimulai.
Data dari Kementerian Kesehatan Publik Lebanon mencatat setidaknya 380 orang tewas selama masa gencatan senjata ini.
Secara akumulatif, sejak operasi militer dan pemboman besar-besaran dimulai pada 2 Maret lalu, total korban jiwa telah melampaui angka 2.800 orang.
Pada Selasa 12 Mei pagi waktu setempat, militer Israel melalui juru bicara bahasa Arabnya, Avichay Adraee, kembali merilis perintah evakuasi paksa melalui platform X.
Penduduk di kota Sohmor (Lembah Bekaa), serta wilayah Arzoun, Tayr Debba, Bazouriyeh, dan al-Haush diperintahkan untuk segera meninggalkan kediaman mereka.
Resistensi Warga dan Tekanan Diplomatik
Koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, melaporkan dari Tyre bahwa terjadi eskalasi signifikan dalam sepekan terakhir. Namun, banyak warga yang enggan kembali mengungsi.
"Masyarakat khawatir situasi ini akan terus berlanjut. Namun, banyak dari mereka yang telah kembali sebelumnya menyatakan tidak akan meninggalkan Lebanon selatan lagi," ujar Hitto.
Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, telah melakukan pembicaraan dengan Duta Besar AS, Michel Issa.
Salam mendesak Washington untuk menekan Israel agar menghentikan agresi guna memperkuat pilar gencatan senjata sebelum pertemuan trilateral di Washington pekan ini.
Pertemuan mendatang di Amerika Serikat disebut-sebut sebagai penentu fase krusial dari keberlangsungan perdamaian ini.
Kendati demikian, wacana pertemuan langsung antara Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih menemui jalan buntu.
"Pihak Lebanon dengan tegas menolak hal tersebut pada tahap konflik saat ini, setidaknya sampai Israel menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan," lapor Rory Challands dari Beirut.
Posisi Hezbollah
Di tengah tekanan pelucutan senjata oleh pemerintah Lebanon, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menegaskan bahwa kepemilikan senjata kelompoknya bukan merupakan poin negosiasi dalam pembicaraan diplomatik mendatang.
Dalam pernyataan tertulis yang disiarkan saluran televisi Al-Manar, Qassem menegaskan sikap kelompoknya:
"Urusan senjata dan perlawanan adalah masalah internal Lebanon dan tidak ada kaitannya dengan negosiasi dengan musuh. Kami tidak akan menyerah dan akan terus membela Lebanon serta rakyatnya, berapa pun lama waktu yang dibutuhkan dan seberapa besar pengorbanannya."
Hingga berita ini diturunkan, militer Israel terus melanjutkan operasi di lapangan, termasuk penghancuran stasiun pompa air di Deir Mimas dan pembongkaran rumah-rumah di Bint Jbeil, yang memicu kekhawatiran krisis kemanusiaan yang lebih dalam.










