TVRINews - Jakarta
Pembentukan dewan bisnis tingkat tinggi perkuat fondasi ekonomi bilateral di sektor pertahanan dan energi terbarukan
Presiden Indonesia Prabowo Subianto sukses membukukan komitmen investasi dan kerja sama bilateral senilai USD 3,5 miliar (sekitar Rp61,25 triliun) dalam rangkaian kunjungan diplomatiknya ke Prancis selama lima hari terakhir. Lawatan strategis yang berakhir Sabtu 30 Mei 2026 ini menghasilkan kesepakatan multipolar, mulai dari ekspansi energi bersih hingga transfer teknologi militer mutakhir.
Seluruh kesepakatan tersebut difinalisasi dalam forum investasi bilateral yang menandai peluncuran resmi Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Prancis-Indonesia (France-Indonesia High Level Business Council / FI-HLBC).
Pertemuan puncak tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, guna mengonsolidasikan kemitraan ekonomi jangka panjang antara kedua negara.
"Kemitraan ini memegang peranan krusial bagi arsitektur ekonomi kita. Indonesia menyambut baik ekspansi korporasi global asal Prancis yang secara konsisten memperkuat fundamental perekonomian domestik," ujar Presiden Prabowo dalam keterangan resminya pasca-pertemuan dikutip Minggu 31 Mei 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, yang mendampingi delegasi kepresidenan, memaparkan bahwa FI-HLBC mengintegrasikan kekuatan 30 raksasa industri terkemuka dari kedua negara. Entitas-entitas bisnis yang terlibat dalam konsorsium ini memiliki akumulasi kapitalisasi pasar global mencapai USD 1,3 triliun.
Menurut Rosan, pembentukan dewan bisnis ini bertindak sebagai akselerator riil dalam memicu arus modal, memperluas neraca perdagangan, dan mengamankan proyek strategis bersama yang menguntungkan kedua belah pihak.
"Magnitudo kerja sama senilai USD 3,5 miliar ini menjadi indikator valid atas tingginya tingkat kepercayaan lanskap bisnis internasional terhadap stabilitas ekonomi nasional serta daya saing regulasi investasi Indonesia," ungkap Rosan.
Berdasarkan laporan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, berikut adalah empat pilar kesepakatan strategis yang berhasil diresmikan:
Akselerasi Volume Perdagangan Bilateral Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama MEDEF International menyepakati kerangka kerja formal untuk mengawal implementasi arus modal secara berkala melalui pertemuan kuartalan. Kedua pihak memproyeksikan lonjakan volume perdagangan bilateral hingga tiga kali lipat pada tahun 2035, guna melampaui basis nilai perdagangan saat ini yang berada di angka USD 2,6 miliar.
Digitalisasi Migas dan Dekarbonisasi Hulu Energi PT Pertamina (Persero) mengamankan kemitraan teknologi bersama SLB (PT Schlumberger Geophysics Nusantara) guna optimalisasi produksi hulu migas. Fokus kerja sama ini bertumpu pada penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan infrastruktur ramah lingkungan, termasuk proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) untuk mereduksi emisi.
Diversifikasi Portofolio Rendah Karbon Pertamina juga memperluas aliansi strategis dengan korporasi energi raksasa TotalEnergies. Nota kesepahaman yang ditandatangani mencakup studi kelayakan bersama dan integrasi operasional pada sektor gas alam cair (LNG), perdagangan energi terbarukan, pengembangan bahan bakar nabati (biofuel), serta akselerasi pembangunan infrastruktur kilang hijau (green refinery) terintegrasi.
Kemandirian Pertahanan via Produksi Radar Domestik Di sektor keamanan nasional, lembaga pengelola investasi Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi kesepakatan dengan Thales. Kemitraan strategis ini memprioritaskan pembangunan fasilitas manufaktur radar pertahanan udara lokal berlabel 'Made in Indonesia'. Kolaborasi ini mencakup alih teknologi sistem komando, integrasi tactical data link, serta pusat pemeliharaan dan pelatihan komprehensif bagi personel militer domestik.
Analisis pasar menunjukkan bahwa diversifikasi kemitraan yang mencakup ketahanan energi dan kedaulatan teknologi militer ini akan memposisikan Indonesia sebagai episentrum investasi yang kian kompetitif di kawasan Asia Tenggara dalam dekade mendatang.










