TVRINews – News Delhi
Konferensi tingkat tinggi BRICS di New Delhi menghadapi tantangan berat akibat ketegangan geopolitik global, perbedaan kepentingan politik antaranggota, serta upaya India menjaga keseimbangan diplomasi strategis.
Pemimpin negara-negara anggota BRICS dijadwalkan berkumpul di New Delhi akhir pekan ini. Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi ujian signifikan bagi soliditas kelompok ekonomi berkembang tersebut di tengah bayang-bayang konflik bersenjata di Ukraina dan Timur Tengah, serta persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Sebagai tuan rumah, India memikul tanggung jawab diplomatik yang kompleks. New Delhi berupaya menyeimbangkan hubungan eratnya dengan Moskow dan Beijing, di satu sisi, dengan kemitraan strategis yang terus menguat bersama Amerika Serikat serta kekuatan Barat lainnya, di sisi lain.
Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian termasuk di antara para pemimpin yang diproyeksikan hadir. Saat ini, BRICS telah berkembang dari format awal hingga merangkul 11 negara anggota. Blok tersebut merepresentasikan sekitar separuh populasi dunia serta porsi besar dalam cadangan energi, sumber daya alam, dan output ekonomi global.
Kendati demikian, para pengamat menilai bahwa perluasan keanggotaan ini justru memperlihatkan celah perbedaan internal. Masing-masing negara anggota memiliki ambisi politik, orientasi ekonomi, serta kebijakan luar negeri yang kerap kali saling bersaing dalam percaturan global.
"Global South bukan merupakan entitas yang homogen. Oleh karena itu, kelompok ini akan merasa kesulitan untuk mengelola dan memediasi konflik-konflik tersebut," ujar Praveen Donthi, analis senior dari International Crisis Group kutip AP News Jumat 11 september 2026.
Perang di Ukraina dan konflik di Iran diprediksi menjadi isu paling sensitif yang menyoroti perpecahan tersebut. Iran kini berstatus sebagai anggota penuh BRICS, sementara Rusia tetap menjadi salah satu pilar utama kelompok itu.
Di sisi lain, Tiongkok menjalin hubungan dekat dengan kedua negara tersebut, sedangkan India berupaya merawat komunikasi strategis dengan Rusia, Iran, Amerika Serikat, dan Eropa secara bersamaan.
Bagi India, forum KTT ini juga dimanfaatkan sebagai ruang diplomasi untuk mengelola dinamika hubungan bilateral dengan Tiongkok. Kunjungan Presiden Xi Jinping ke New Delhi menandai lawatan pertamanya dalam tujuh tahun terakhir, yang diharapkan mampu mencairkan ketegangan perbatasan sejak eskalasi pada tahun 2020 lalu, meskipun pemulihan kerja sama perdagangan secara penuh masih memerlukan waktu.
Selain isu geopolitik regional, agenda pengurangan ketergantapan terhadap dolar AS turut menjadi pembahasan utama. Para anggota mendiskusikan penguatan perdagangan menggunakan mata uang lokal guna memitigasi risiko sanksi finansial barat. Namun, para ahli menilai transisi tersebut tidak mudah mengingat dominasi mata uang dolar yang mengakar kuat dalam sistem keuangan global.
"Ini adalah sebuah tantangan, tetapi kita tidak sedang membicarakan konfrontasi frontal. Situasinya bukan sesuatu yang biner," ungkap Mahesh Sachdev, seorang mantan diplomat asal India.
Keberhasilan dan relevansi jangka panjang BRICS dinilai sangat bergantung pada kemampuan para anggotanya dalam menyamakan persepsi dan menghasilkan langkah-langkah konkret, alih-alih sekadar menjadi forum diskusi seremonial belaka.










