TVRINews – Jakarta
Lima kekuatan utama Eropa tegaskan komitmen pertahanan mandiri sekaligus sebut Amerika Serikat sebagai sekutu strategis yang tak tergantikan.
Menteri pertahanan dari lima kekuatan utama Eropa yang tergabung dalam kelompok E5 Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Inggris sepakat mengambil panggung pertahanan yang lebih mandiri. Keputusan strategis ini diambil menyusul kekhawatiran atas rencana Washington mengurangi kehadiran militernya di Benua Biru, sekaligus memastikan kesinambungan aliansi transatlantik tetap terjaga.
Dalam pertemuan tingkat tinggi di Paris pada hari Senin 26 Oktober 2026, para menteri pertahanan menegaskan bahwa Eropa harus memikul porsi tanggung jawab yang lebih besar demi menjaga stabilitas kawasan.
Meski demikian, mereka sepakat bahwa keterlibatan Amerika Serikat tetap memegang peranan krusial bagi kredibilitas dan efektivitas pertahanan kolektif NATO.
"Eropa harus memikul tanggung jawab yang lebih besar atas keamanannya sendiri," demikian bunyi pernyataan bersama para menteri, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters. "Kami bertekad bekerja sama secara erat dengan Amerika Serikat dan seluruh sekutu demi mewujudkan ambisi nyata ini."
Kelompok E5 menegaskan bahwa Washington tetap diposisikan sebagai mitra utama yang tak tergantikan. "Amerika Serikat adalah dan akan tetap menjadi sekutu yang tak tergantikan, dan keterlibatan berkelanjutan Amerika Serikat dalam keamanan Eropa sangat esensial untuk membangun NATO yang kuat dan kredibel," tambah pernyataan tersebut.
Menteri Pertahanan Prancis, Catherine Vautrin, menyampaikan bahwa kelima negara telah menyepakati langkah konkrit untuk membangun Eropa yang lebih tangguh di dalam tubuh NATO.
Seluruh cetak biru penguatan militer ini, imbuhnya, akan dirancang melalui koordinasi penuh dan transparansi bersama pemerintah Amerika Serikat. Ia juga mengumumkan bahwa pertemuan lanjutan kelompok E5 akan dilangsungkan di Roma pada Maret 2027.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, yang turut hadir dalam forum tersebut, memberikan dukungan penuh terhadap akselerasi kapabilitas pertahanan regional. "Kita harus terus memodernisasi kekuatan dan kapabilitas kita demi membangun Eropa yang lebih kuat di dalam NATO yang lebih kuat," ujar Kallas.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Pawel Zalewski, menanggapi langsung kekhawatiran seputar rencana penarikan pasukan Amerika Serikat. Pada bulan Mei lalu,
Pentagon sempat mengejutkan para sekutu Eropa tatkala mengumumkan rencana mereduksi sekitar 5.000 personel militer dari total 35.000 tentara AS yang bermarkas di Jerman, dengan kurun waktu implementasi antara enam hingga dua belas bulan ke depan. Kendati demikian, Zalewski meyakini setiap penyesuaian pasukan akan dikoordinasikan secara matang guna menghindari celah kerentanan dalam daya gentar aliansi.
Selain isu internal aliansi, para menteri pertahanan E5 turut memperbarui komitmen dukungan politik jangka panjang terhadap Ukraina, meski pertemuan tersebut belum menghasilkan paket bantuan militer maupun finansial baru.
Sekretaris Pertahanan Inggris, Wes Streeting, mengingatkan bahwa Eropa kini menghadapi ancaman dari Rusia dalam skala yang belum pernah disaksikan sejak berakhirnya Perang Dingin. "Kami akan mendampingi Ukraina selama diperlukan," tegas Streeting.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa langkah penguatan pertahanan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memicu eskalasi militer secara langsung dengan Moskow.
"Tidak ada satupun dari kami yang menginginkan perang dengan Rusia, dan kami sama sekali tidak memiliki permusuhan dengan rakyat Rusia," pungkasnya.










