TVRINews – Washington
Pertemuan puncak trilateral Putin, Trump, dan Xi Jinping dipersiapkan untuk membahas stabilitas global serta arah kebijakan strategis internasional.
Pertemuan tingkat tinggi trilateral antara Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Presiden China Xi Jinping segera dimulai. Rencana agenda strategis tersebut diungkapkan oleh Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin, Yury Ushakov, dalam wawancara dengan media pemerintah Rusia Minggu 25 Oktober 2026.
Ushakov menegaskan bahwa Moskow, Beijing, dan Washington telah sepakat secara prinsip untuk merealisasikan pertemuan puncak perdana ini. Menurut laporan media setempat, pihak otoritas China dilaporkan menyambut inisiatif diplomatik tersebut dengan keseriusan penuh guna merumuskan arah kebijakan strategis global ke depan.
Momentum pertemuan puncak ini rencananya akan diintegrasikan ke dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, China. Kendati demikian, Kremlin menyebutkan bahwa pembahasan khusus mengenai agenda bilateral terpisah antara Moskow dan Washington masih terus dikoordinasikan.
"Moskow, Beijing, dan Washington pada prinsipnya telah siap untuk melaksanakannya, dan proses persiapan telah mulai berjalan," ujar Ushakov, sebagaimana dikutip dari wawancara dengan jurnalis Pavel Zarubin.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaannya terhadap gagasan dialog pembatasan senjata strategis yang melibatkan ketiga negara besar tersebut. Isu utama yang diangkat meliputi stabilitas nuklir serta upaya denuklirisasi global yang komprehensif.
"Kami akan membahas persoalan senjata nuklir dan denuklirisasi. Jika Presiden Xi bersedia, saya tentu siap melaksanakannya, dan saya yakin isu perdagangan juga akan menjadi bagian dari pembahasan," ungkap Trump.
Pandangan senada disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menilai bahwa komunikasi terbuka di antara para pemimpin negara pemilik kekuatan nuklir terbesar di dunia merupakan langkah krusial bagi keamanan internasional.
Kendati demikian, rencana pertemuan trilateral ini mendapat tanggapan dari pihak Ukraina. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa keterlibatan Kyiv merupakan syarat mutlak apabila pembahasan menyangkut masa depan kedaulatan negara tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyampaikan pandangan melalui media sosial bahwa dialog penyelesaian konflik harus melibatkan pihak-pihak yang terdampak langsung secara substansial.
Kremlin sendiri memastikan bahwa Moskow tetap membuka ruang komunikasi diplomatik guna merespons dinamika geopolitik internasional, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional masing-masing negara secara berimbang.










