TVRINews, Hannover
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hannover sukses menggelar Gaung Garuda 2026, festival musik, budaya, dan kuliner Indonesia yang menarik sekitar 1.000 pengunjung dari berbagai wilayah di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, termasuk Belanda, Austria, dan Swiss. Festival yang berlangsung di Kulturzentrum Faust, Hannover, pada 23 Oktober 2026 ini menghasilkan keuntungan sekitar Rp40 juta yang direncanakan untuk membantu penyediaan buku bagi sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.
Mengusung tema “A Celestial Night”, Gaung Garuda 2026 tidak hanya menjadi ajang silaturahmi diaspora Indonesia, tetapi juga ruang bagi masyarakat lokal dan internasional untuk mengenal kekayaan seni, budaya, serta kuliner Nusantara.
Penampilan penyanyi Indonesia, Tulus, menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Dalam suasana konser yang hangat dan intim, para penonton bernyanyi bersama mengikuti lagu-lagu yang dibawakannya. Paduan suara ribuan penonton menciptakan suasana meriah sekaligus menghadirkan pengalaman musikal yang dekat dan personal.
Selain menghadirkan musisi ternama Indonesia, festival ini memberi kesempatan kepada mahasiswa Indonesia di Jerman untuk menunjukkan bakat dan kreativitas. Sejumlah grup musik yang beranggotakan pelajar Indonesia turut tampil, menjadikan Gaung Garuda sebagai ruang bagi talenta diaspora untuk berkarya dan memperkenalkan kemampuan mereka kepada khalayak yang lebih luas.
Gaung Garuda 2026 juga menghadirkan bazar kuliner dengan beragam hidangan khas Indonesia, mulai dari nasi Padang, nasi rames, dan hidangan ala warteg hingga jajanan pasar dan kue basah tradisional. Sajian tersebut memberi kesempatan kepada pengunjung untuk menikmati cita rasa Nusantara sekaligus mengenal keberagaman budaya Indonesia dalam suasana lintas budaya.
Festival ini turut dihadiri perwakilan diplomatik Indonesia, termasuk Fajar Wirawan Harijo, Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, dan Renata Siagian, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hamburg.
Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap inisiatif mahasiswa Indonesia dalam memperkuat hubungan sosial dan mendorong pertukaran budaya antara Indonesia dan Jerman.
Wakil Ketua Pelaksana Gaung Garuda 2026, Vicko Jacklaudy, mengatakan festival ini lahir dari semangat kebersamaan mahasiswa Indonesia di perantauan. Ia menegaskan, Gaung Garuda dirancang bukan sekadar sebagai konser, melainkan juga sebagai ruang kolaborasi dan pengembangan talenta muda Indonesia.
“Gaung Garuda berangkat dari semangat kebersamaan komunitas mahasiswa Indonesia di perantauan. Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar konser, melainkan ruang untuk membangun koneksi, berbagi pengalaman, dan memberikan kesempatan kepada talenta-talenta muda Indonesia di Jerman untuk tampil dan berkembang. Melihat antusiasme penonton dari berbagai negara menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Vicko Jacklaudy, Wakil Ketua Pelaksana Gaung Garuda 2026, dalam keterangan yang diterima Senin, 26 Oktober 2026.
Di balik kemeriahan acara, Gaung Garuda 2026 membawa misi sosial melalui konsep acara amal (charity event). Festival tahun ini menghasilkan keuntungan sekitar Rp40 juta yang direncanakan untuk disalurkan dalam bentuk bantuan buku bagi sekolah-sekolah di wilayah 3T di Indonesia.
Saat ini, penentuan sekolah penerima manfaat dan mekanisme penyaluran bantuan masih dalam tahap persiapan.
Ketua PPI Hannover, Arya Saman, mengatakan keberhasilan festival tidak hanya dinilai dari jumlah pengunjung atau kemeriahan acara, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia.
“Bagi kami, keberhasilan Gaung Garuda tidak semata-mata diukur dari jumlah penonton atau kemeriahan acara. Kami ingin menunjukkan bahwa pelajar Indonesia di luar negeri mampu menjadi jembatan budaya sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi tanah air. Melalui hasil penyelenggaraan tahun ini, kami berharap dapat mendukung akses pendidikan bagi anak-anak di daerah 3T. Walaupun berada jauh dari Indonesia, kepedulian dan tanggung jawab kami terhadap tanah air tetap menjadi bagian dari identitas kami,” ujar Arya Saman, Ketua PPI Hannover.
Gaung Garuda pertama kali diselenggarakan pada 2013 sebagai pentas seni komunitas lokal. Festival ini terus berkembang hingga mulai menghadirkan musisi ternama Indonesia pada 2022, di antaranya Nadin Amizah dan Isyana Sarasvati. Pada 2026, Tulus turut meramaikan panggung festival.
Perkembangan tersebut mencerminkan transformasi Gaung Garuda dari kegiatan komunitas mahasiswa menjadi festival budaya yang menjangkau masyarakat lintas negara.
Melalui penyelenggaraan Gaung Garuda 2026, PPI Hannover berharap dapat terus mempererat hubungan antarkomunitas Indonesia di Eropa, membuka peluang kolaborasi dengan masyarakat internasional, serta menjadikan seni dan budaya sebagai sarana untuk membangun kedekatan lintas bangsa.
Festival ini juga menunjukkan potensi mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengembangkan kegiatan yang memberikan dampak di bidang budaya, sosial, dan kemanusiaan. Dengan menggabungkan pertunjukan seni, kuliner, dan aksi sosial, Gaung Garuda diharapkan terus menjadi wadah diplomasi budaya Indonesia sekaligus sarana kontribusi bagi masyarakat di tanah air.










