TVRINews, Rusia
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat diplomasi industri melalui penyelenggaraan Indonesia–Russia Business and Investment Forum 2026 di Saint Petersburg. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari business matching yang sebelumnya digelar di Moskow pada Desember 2025, sekaligus bagian dari rangkaian menuju INNOPROM 2026.
Forum tersebut dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat kemitraan strategis antara Indonesia dan Rusia, sekaligus membuka peluang investasi serta kerja sama baru di sektor industri prioritas. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri nasional dan memperluas jaringan ekonomi global.
Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar ajang komunikasi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan kerja sama konkret, mulai dari investasi hingga kemitraan industri yang berkelanjutan.
“Forum ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat kolaborasi industri antara Indonesia dan Rusia, sekaligus membuka peluang tindak lanjut menuju INNOPROM 2026,”kata Faisol dalam keterangan tertulis, Selasa, 5 Mei 2026.
Hal senada disampaikan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, Alexey Gruzdev. Ia menekankan pentingnya hubungan jangka panjang kedua negara sebagai fondasi untuk memperluas kerja sama ekonomi, termasuk melalui partisipasi Indonesia sebagai partner country pada INNOPROM 2026.
Forum ini dihadiri lebih dari 100 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah dan pelaku usaha dari kedua negara. Turut hadir perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rusia serta Pemerintah Kota Saint Petersburg yang membahas peluang investasi dan penguatan hubungan ekonomi bilateral.
Dalam rangkaian kegiatan, sejumlah perusahaan memaparkan potensi bisnis dan peluang kolaborasi, di antaranya PT PAL Indonesia, Rosatom, PT Pupuk Indonesia, dan UC Rusal. Paparan tersebut mencakup berbagai sektor strategis, seperti manufaktur, industri berat, dan pemanfaatan teknologi.
Kerja sama ini dinilai saling melengkapi, mengingat Rusia memiliki keunggulan di bidang rekayasa teknologi dan industri berat, sementara Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar, sumber daya industri, serta kawasan industri yang kompetitif sebagai basis produksi regional.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII), Tri Supondy, menyebut forum ini sebagai langkah penting dalam memperkuat fondasi kerja sama industri kedua negara ke depan.
“Kami melihat antusiasme tinggi dari pelaku usaha. Ini menjadi modal kuat untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan serta memperkuat posisi Indonesia dan Rusia dalam ekosistem industri global,”ungkap Tri.
Melalui forum ini, Kemenperin berharap tercipta peluang investasi baru, perluasan pasar, serta kolaborasi industri yang lebih luas. Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong transformasi industri nasional menuju ekosistem yang modern, inovatif, dan berkelanjutan.










