TVRINews, Yerevan
KTT Yerevan menjadi saksi keretakan hubungan sekutu lama di tengah ancaman penarikan pasukan militer secara massal.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menegaskan bahwa Eropa tidak akan menyerah pada "dunia yang brutal dan terkungkung." Sebaliknya, ia memproyeksikan benua ini sebagai fondasi baru bagi pembangunan kembali tatanan internasional.
Kehadiran Carney dalam pertemuan European Political Community (EPC) ke-8 di Yerevan, Armenia, menandai sejarah sebagai pemimpin non-Eropa pertama yang menghadiri forum tersebut.
Pertemuan ini berlangsung di bawah bayang-bayang ketegangan Selat Hormuz dan keraguan mendalam atas stabilitas aliansi transatlantik.
"Kami tidak percaya bahwa kami ditakdirkan untuk tunduk pada dunia yang lebih transaksional, picik, dan brutal. Pertemuan seperti ini menunjukkan jalan yang lebih baik ke depan," ujar Carney dalam pidato pembukaannya, Senin 4 Mei 2026.
Retaknya Pilar Transatlantik
Pernyataan Carney muncul sebagai respons terhadap kebijakan mengejutkan Presiden AS, Donald Trump, yang mengumumkan penarikan lebih dari 5.000 tentara dari Jerman.Hingga hal ini memicu kekhawatiran kolektif di kalangan pemimpin Eropa mengenai keandalan Washington dalam payung keamanan NATO.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengakui adanya keretakan dalam aliansi yang selama ini menjadi sandaran keamanan global.
"Ada ketegangan dalam aliansi yang seharusnya tidak terjadi. Bagaimana kita merespons ini akan menentukan arah generasi mendatang," tutur Starmer.
Senada dengan hal tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan pentingnya kemandirian strategis.
Menurutnya, negara-negara Eropa kini mulai mengambil alih nasib mereka sendiri dengan meningkatkan anggaran pertahanan dan menciptakan solusi keamanan mandiri.
Data Penempatan Pasukan AS di Eropa (Akhir 2025)
Grafis: TVRINews.com
Keresahan ini semakin diperparah dengan ancaman Trump untuk menarik pasukan dari Italia dan Spanyol, dipicu oleh ketidakpuasan Washington terhadap dukungan negara-negara tersebut dalam operasi AS-Israel melawan Iran.
Dari perspektif Kyiv, Presiden Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa musim panas mendatang akan menjadi titik krusial bagi Rusia:
antara memperluas perang atau beralih ke diplomasi. Ia mendesak agar sanksi tetap dipertahankan dan memastikan Eropa memiliki kursi utama dalam setiap negosiasi meja bundar.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyerukan penguatan "pilar Eropa" di dalam NATO sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian kebijakan Gedung Putih.
Meski Kanselir Jerman Friedrich Merz absen dalam KTT ini, ia menyatakan melalui media Jerman bahwa dirinya tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Donald Trump tanpa mengorbankan hubungan transatlantik.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengakui adanya kekecewaan dari pihak AS terkait keengganan Eropa dalam isu Iran, namun ia menegaskan bahwa pesan tersebut telah "didengar" dan dukungan logistik kini mulai dikerahkan.
Pertemuan di Yerevan ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan simbol perlawanan terhadap pengaruh Rusia di Kaukasus sekaligus pernyataan tegas bahwa saat kepemimpinan Amerika Serikat tampak memudar, Eropa bersiap untuk memimpin.










