TVRINews, Washington
Klaim sepihak Donald Trump soal berakhirnya konflik bersenjata dengan Iran langsung membuat pasar minyak global bernapas lega.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dengan Iran sudah hampir tercapai. Pernyataan mengejutkan ini disampaikannya tak lama setelah ia mengumumkan pembatalan rencana serangan militer lanjutan terhadap negara di Timur Tengah tersebut.
"Kami baru saja membuat penyelesaian yang luar biasa terkait perang dengan Iran," ujar Trump kepada para wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis 11 Juni 2026.
Menurut Trump, draf dokumen kesepakatan tersebut kini berada dalam tahap akhir dan penandatanganannya kemungkinan besar akan dilakukan di Eropa dalam waktu dekat. Fokus utama dari perundingan ini, tegasnya, adalah jaminan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
"Itulah tujuan utama dari semua hal yang harus kami lalui untuk mencapai titik ini. Jadi, ini adalah pencapaian yang sangat besar," tambahnya.
Klaim optimis dari Washington ini langsung memberikan dampak signifikan pada pasar global. Harga minyak mentah berjangka Brent dilaporkan anjlok sekitar 4,4 persen menjadi 89 dolar AS per barel, seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Trump juga berjanji bahwa jalur pelayaran vital, Selat Hormuz, akan kembali beroperasi normal segera setelah dokumen resmi diteken.
Sikap Hati-hati Teheran dan Respons Israel
Meski Washington menyiratkan optimisme tinggi, Teheran memberikan tanggapan yang jauh lebih terukur. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, melalui stasiun televisi pemerintah menyebut laporan mengenai kesepakatan tersebut masih bersifat "spekulatif" dan menekankan bahwa "belum ada yang final".
Baghaei mengakui bahwa sebagian besar teks nota kesepahaman memang telah dirampungkan. Namun, ia menyoroti adanya tuntutan berlebihan dan permintaan baru dari pihak AS yang memperlambat proses. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah mundur dari garis merah yang telah ditetapkan oleh negara tersebut.
Di sisi lain, sekutu utama AS di kawasan, Israel, memastikan bahwa mereka memantau perkembangan ini. Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi bahwa Benjamin Netanyahu telah melakukan percakapan telepon dengan Trump terkait isu ini.
Dalam pernyataan resminya, Israel menegaskan bahwa mereka bukanlah pihak yang tergabung dalam nota kesepahaman tersebut. Kendati demikian, Netanyahu menyampaikan apresiasinya atas komitmen Trump dalam mendorong pembongkaran infrastruktur pengayaan uranium serta penghentian dukungan Iran terhadap berbagai kelompok proksi di Timur Tengah.
Paradoks Diplomasi dan Eskalasi Militer
Pernyataan damai Trump memunculkan kontras yang tajam dengan retorika militer yang terjadi hanya beberapa jam sebelumnya. Sebelum pengumuman di Ruang Oval, Trump sempat melontarkan ancaman bahwa AS akan menyerang fasilitas infrastruktur minyak Iran secara besar-besaran, termasuk Pulau Kharg yang menjadi urat nadi 90 persen ekspor minyak Teheran.
Ancaman tersebut sempat memicu reaksi keras dari militer Iran. Mereka memperingatkan akan melancarkan pembalasan yang "jauh lebih parah" jika infrastruktur energinya diganggu, dengan menyatakan bahwa ekspor minyak dan gas di kawasan Teluk "bisa dinikmati oleh semua negara, atau tidak untuk siapa pun."
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut memperingatkan bahwa keputusan impulsif dari Washington hanya akan menciptakan "rawa tak berujung" yang akan menjebak AS selama bertahun-tahun.
Situasi di kawasan Teluk memang berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi menyusul serangkaian bentrokan bersenjata. Ketegangan terbaru dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache AS di Teluk pada awal pekan, yang direspons oleh Komando Pusat AS (Centcom) dengan melancarkan gelombang serangan ke berbagai fasilitas radar dan militer di selatan Iran.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan proyektil ke arah pangkalan militer yang menampung pasukan AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Otoritas lokal Bahrain melaporkan jatuhnya korban luka, yakni seorang anak perempuan berusia 11 tahun, akibat serpihan pesawat nirawak dalam insiden tersebut.
Eskalasi ini juga mulai memakan korban dari negara non-blok. Pemerintah India dilaporkan telah memanggil diplomat senior AS untuk meminta penjelasan usai tiga pelaut asal India tewas dalam serangan AS terhadap sebuah kapal kargo di Teluk Oman.
Washington berdalih kapal tersebut melanggar blokade yang diterapkan untuk memutus jalur ekspor minyak Teheran. Tercatat, pasukan AS telah menembaki sembilan kapal yang diduga mencoba menembus blokade tersebut sejauh ini.










