TVRINews - Beirut
Ketegangan di Perbatasan Meningkat, Dua Warga Tewas dalam Operasi Militer Terbaru
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melakukan serangan udara di Lebanon selatan pada Selasa 23 Juni 2026, meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional sedang berlangsung. Insiden ini memicu kekhawatiran baru akan stabilitas keamanan di kawasan tersebut.
Dalam keterangan resminya, IDF menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi kelompok bersenjata yang beroperasi di dekat posisi militer mereka di zona keamanan wilayah Ali al-Taher Ridge.
Militer Israel menyebut tindakan tersebut sebagai langkah preventif untuk "menghilangkan ancaman" yang membahayakan pasukan mereka di lapangan.
Namun, laporan berbeda datang dari Lebanon. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan dua pemuda di Nabatieh al-Fawqa.
Menurut laporan tersebut, insiden bermula ketika empat warga sipil tengah mengoperasikan alat berat untuk membuka akses jalan di lingkungan Deir, sebelum akhirnya menjadi sasaran tembakan pasukan Israel.
Dua orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan saat ini sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bantuan Rakyat Lebanon di Nabatieh. Salah satu korban yang sempat dilarikan ke rumah sakit akhirnya dinyatakan meninggal dunia, sehingga total korban jiwa dalam insiden ini menjadi dua orang.
Diplomasi di Washington Berlanjut
Di saat yang sama, delegasi Israel dan Lebanon kembali bertemu di Washington untuk putaran kelima perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Agenda yang berlangsung sejak 23 hingga 25 Juni ini berfokus pada pengaturan keamanan perbatasan jangka panjang.
Posisi kedua pihak masih berseberangan. Beirut mendesak adanya jadwal penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon selatan. Di sisi lain, Israel menegaskan bahwa kesepakatan permanen hanya dapat dicapai jika keberadaan militer serta kapabilitas Hezbollah dibatasi secara signifikan.
Perundingan ini berjalan di bawah bayang-bayang kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya berhasil menekan angka kekerasan. Meski gencatan senjata secara umum telah menurunkan intensitas konflik, isu-isu mendasar masih menjadi hambatan bagi terciptanya perdamaian permanen.
Berdasarkan data resmi pemerintah Lebanon, sejak 2 Maret 2026, rangkaian serangan di wilayah tersebut telah menyebabkan lebih dari 4.100 orang meninggal dunia dan melukai lebih dari 12.000 warga lainnya.










