TVRINews – Sana’a
Mantan PM Maeen Abdulmalik Saeed Memperingatkan Potensi Bencana Global Jika
Masa depan stabilitas dan keamanan negara-negara Barat kini dipertaruhkan di medan pertempuran Yaman. Pergeseran peta konflik di wilayah timur tengah ini dinilai telah memasuki babak baru yang mengancam jalur pelayaran internasional serta geopolitik global.
Peringatan tegas tersebut disampaikan oleh mantan Perdana Menteri Yaman yang kini menjabat sebagai Penasihat Presiden Yaman, Maeen Abdulmalik Saeed. Dalam ulasannya, ia menegaskan bahwa pertempuran sengit di sekitar Kota Taiz bukan sekadar konflik lokal, melainkan benteng pertahanan terakhir bagi keamanan kawasan Selat Bab al-Mandab dan Laut Merah.
"Pertempuran di sekitar Taiz bukan sekadar perebutan satu kota, melainkan pertempuran lebih luas yang melibatkan seluruh dunia Barat dan salah satu selat maritim paling vital di dunia," ujar Maeen Abdulmalik Saeed kepada The Guardian, Jumat 16 Oktober 2026.
Saeed menekankan, jika Kota Taiz jatuh ke tangan milisi Houthi yang disokong Iran, akses menuju jalur maritim strategis dan jalan menuju kota pelabuhan Aden—pusat pemerintahan Yaman yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)—akan terputus total. Kondisi ini dinilai akan memperluas dominasi kelompok tersebut ke seluruh wilayah Yaman.
Kota Taiz kini menjadi garis depan baru dalam peta peperangan setelah milisi Houthi melancarkan serangan militer skala besar sejak bulan lalu. Langkah ini mengakhiri periode gencatan senjata relatif yang sempat berlangsung sejak 2022 di bawah naungan PBB.
Ancaman Taktik Baru dan Asimetris
Selain perebutan wilayah teritorial, Saeed menggarisbawahi ancaman dari transformasi teknologi militer yang dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata non-negara. Menurutnya, pemanfaatan senjata nirawak (drone) jarak jauh dan rudal terpandu yang diselundupkan telah mengubah lanskap ancaman keamanan dunia.
"Ini adalah era baru dari terorisme radikal. Ini bukan lagi model acak seperti masa lalu, melainkan aktor semi-negara dan milisi yang mampu mengancam negara-negara kuat menggunakan teknologi murah," jelas Saeed.
Ia mengungkapkan bahwa kapasitas tempur milisi Houthi telah berkembang pesat dibanding beberapa tahun lalu. Jika pada 2017 kekuatan mereka terbatas pada roket tanpa pemandu, kini mereka memiliki jangkauan rudal ballistic dan sistem drone yang mampu menargetkan infrastruktur vital hingga radius ratusan mil.
Desakan Kordinasi Pertahanan dan Bantuan Internasional
Pemerintah Yaman mengakui adanya keterbatasan dalam menghadapi eskalasi terbaru ini. Kurangnya koordinasi antar-pasukan pro-pemerintah serta keterlambatan dalam mengantisipasi ancaman teknologi tempur baru menjadi tantangan berat di lapangan.
Saat ini, kawasan perkotaan Taiz yang dihuni lebih dari 500.000 jiwa berada di bawah ancaman pengepungan total. Meski bantuan kemanusiaan dan bahan bakar masih mengalir secara terbatas, pergerakan milisi terus memperketat ruang gerak di wilayah pedesaan sekitarnya.
Saeed menyerukan kepada negara-negara Barat dan sekutu regional untuk segera merumuskan strategi pertahanan baru guna menahan laju ekspansi tersebut sebelum situasi memburuk secara permanen.
"Kehilangan Taiz akan berdampak simbolis yang sangat besar terhadap gagasan negara modern di Yaman. Tanpa langkah bersama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Yaman, tetapi juga oleh stabilitas pasokan energi dan navigasi maritim dunia," pungkasnya.










