TVRINews – Brussel
Gencatan Senjata Energi Kolaps, Hubungan Washington dan Kyiv Kembali Memanas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan kritik tajam terhadap tindakan Ukraina yang kembali meluncurkan serangan udara ke kilang-kilang minyak milik Rusia. Langkah Kyiv tersebut menyusul runtuhnya kesepakatan gencatan senjata sektor energi yang diinisiasi oleh Washington.
Dalam wawancara bersama media Newsmax yang ditayangkan Kamis 15 Oktober 2026, Trump menyebut tindakan Ukraina berisiko mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Ia menyoroti bahwa fasilitas pengolahan bahan bakar diesel yang menjadi sasaran serangan sangat krusial bagi pasokan energi dunia.
"Tindakan tersebut tidak memberikan kontribusi positif bagi stabilitas global," ujar Trump dalam wawancara tersebut. Ia juga menuturkan bahwa komunikasi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kini terasa lebih kompleks dibandingkan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ketegangan diplomatik antara Washington dan Kyiv meningkat setelah Gedung Putih melonggarkan sejumlah sanksi ekonomi terhadap Moskow. Kebijakan tersebut diambil sebagai imbalan atas langkah Rusia menggelontorkan pasokan bahan bakar ke pasar internasional guna menekan lonjakan harga BBM.
Namun, pihak Kyiv mengkritik keputusan tersebut. Presiden Zelenskyy menilai pelonggaran sanksi berpotensi memberi ruang bagi Moskow untuk melanjutkan agresi militernya.
Respons Kyiv dan Dukungan Uni Eropa
Tiba di Brussel untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi bersama para pemimpin Uni Eropa pada Jumat, Zelenskyy tidak memberikan komentar langsung terkait pernyataan terbaru Trump. Kendati demikian, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi dukungan dari negara-negara Eropa.
Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina berkomitmen untuk menyelesaikan konflik sesegera mungkin. Namun, ia menilai belum ada sinyal iktikad baik dari pihak Kremlin untuk menghentikan pertempuran.
"Kami sangat berterima kasih atas dukungan kuat yang terus diberikan oleh Uni Eropa dan para pemimpinnya," kata Zelenskyy di Brussel.
Presiden Dewan Eropa António Costa mengonfirmasi bahwa Uni Eropa akan terus mendampingi Ukraina, baik dalam menghadapi konflik maupun dalam proses negosiasi keanggotaan Uni Eropa di masa depan.
Senada dengan Costa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa Rusia tidak mengindahkan upaya gencatan senjata energi yang sebelumnya digagas. Sebagai respons, Uni Eropa tengah menyiapkan paket sanksi ke-22 untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Moskow.
"Uni Eropa tidak akan mencabut sanksi apa pun sebelum Rusia menghentikan aksi militernya secara penuh," tegas von der Leyen.
Dukungan senada juga disampaikan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, yang menegaskan pentingnya memastikan Ukraina memiliki kecukupan sarana pertahanan diri.
Gangguan Infrastruktur dan Jaringan Komunikasi
Hubungan bilateral Ukraina dan Amerika Serikat sempat merenggang awal pekan ini akibat munculnya pembatasan mendadak pada layanan satelit Starlink di wilayah konflik. Gangguan infrastruktur komunikasi tersebut sempat mengganggu efektivitas operasi pesawat nirawak (drone) dan sistem pertahanan udara Ukraina.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyampaikan dalam wawancaranya bersama BBC bahwa pihak Amerika Serikat telah memberikan konfirmasi bahwa jaringan komunikasi satelit vital tersebut kini telah pulih sepenuhnya.
Di sisi lain, pertempuran di lapangan masih terus berlanjut. Saat menghadiri agenda diplomatik di Brussel, Zelenskyy mengabarkan bahwa serangan drone Rusia kembali menghantam fasilitas energi di kota Lutsk yang mengakibatkan pemadaman listrik secara meluas. Sementara itu, pihak Kremlin menuding aksi balasan Ukraina terhadap kilang minyak sebagai penyebab utama terhambatnya proses perdamaian.










