TVRINews – Washington
Jelang pemilu sela, mayoritas pemilih Amerika Serikat menyuarakan kekecewaan terhadap kinerja Presiden Donald Trump di bidang ekonomi dan politik luar negeri.
Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research (AP-NORC) menunjukkan tingkat ketidakpuasan publik yang meluas terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump, baik di ranah domestik maupun kebijakan luar negeri.
Temuan yang dirilis kurang dari empat minggu sebelum pemungutan suara ini mengindikasikan sinyal waspada bagi Partai Republik. Dari hasil survei tersebut, pemilih terdaftar dari kubu Partai Demokrat menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi untuk memberikan hak suara dibandingkan dengan pemilih Partai Republik. Selain itu, porsi pemilih yang menghendaki Partai Demokrat mengendalikan Kongres tercatat lebih dominan.
Tingginya biaya hidup dan dinamika ekonomi menjadi perhatian utama publik. Sekitar delapan dari sepuluh pemilih menempatkan isu ekonomi serta inflasi sebagai prioritas tertinggi. Sementara itu, dua pertiga responden menyoroti layanan kesehatan dan keterlibatan militer AS dalam konflik dengan Iran yang terus berlanjut.
Diana Walker, seorang pemilih berusia 65 tahun asal Decatur, Georgia, menyuarakan keprihatinannya atas kondisi perekonomian saat ini.
"Dunia seperti bergerak mundur. Kami hampir tidak mampu membeli kebutuhan apa pun. Semua orang merasakan dampaknya, tidak peduli Anda seorang Demokrat atau Republik," ujar Walker.
Di tingkat partisipasi, sekitar tiga perempat pemilih Demokrat menyatakan bahwa memberikan suara pada pemilu sela November mendatang sangat krusial, dibandingkan dengan enam dari sepuluh pemilih Republik. Pergeseran dukungan ini juga tampak pada tingkat pemilih independen, di mana sekitar dua pertiga di antaranya memiliki pandangan negatif terhadap Partai Republik.
Ryan Longbrake, warga berusia 52 tahun dari Columbus, Ohio, mengonfirmasi dorongan perubahan yang kuat di tingkat akar rumput.
"Saya percaya ada perubahan di depan mata dan ada optimisme besar di dalam partai kami," ungkap Longbrake, merujuk pada momentum politik di Ohio serta investasi politik di basis wilayah tradisional lawan.
Meskipun Partai Republik telah menguasai Kongres selama dua tahun terakhir, kini sekitar separuh pemilih terdaftar lebih memilih Partai Demokrat untuk memegang kendali di DPR maupun Senat. Sebaliknya, dukungan untuk Partai Republik bertahan di angka 40 persen, sementara sisanya belum menentukan sikap.
Secara keseluruhan, sekitar separuh responden menginginkan "perubahan substantif" dan tiga dari sepuluh pemilih menghendaki reorientasi menyeluruh terhadap arah kebijakan negara. Dorongan perbaikan ini bahkan datang dari internal pendukung pemerintah.
Krista Kohles, pemilih Partai Republik berusia 70 tahun dari Nebraska, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kelambanan di tingkat legislatif.
"Saya lelah mengirim orang ke sana dan tidak ada yang diselesaikan. Tidak ada yang berubah," kata Kohles.
Tingkat kepuasan terhadap Presiden Trump berada pada angka yang tergolong rendah, dengan hanya sekitar sepertiga pemilih terdaftar yang memberikan penilaian positif. Delapan dari sepuluh pemilih tidak puas dengan penanganan biaya hidup, dan tiga perempat responden mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah. Di internal Partai Republik sendiri, persetujuan terhadap penanganan biaya hidup oleh Presiden Trump hanya mencapai 44 persen.
Keretakan dukungan juga terlihat dalam isu kebijakan luar negeri, di mana persetujuan dari pendukung Republik merosot ke angka 69 persen seiring berkepanjangannya konflik di Iran.
DonnaJean Weber, seorang pemilih Republik berusia 72 tahun dari Michigan, menegaskan bahwa ia tetap mendukung calon dari partainya, tetapi mengkritik arah kebijakan ekonomi dan tarif impor yang diterapkan pemerintah.
"Semua harga naik. Saya juga tidak sepenuhnya setuju dengan seluruh kebijakan tarif ini. Hal itu membuat citra negara kita memburuk," tutur Weber.
Meskipun Partai Demokrat unggul dalam beberapa indikator motivasi pemilih, sentimen publik secara keseluruhan mencerminkan skeptisisme terhadap kedua belah pihak. Penilaian negatif terhadap Partai Demokrat masih berada di kisaran 50 persen, memperlihatkan bahwa peningkatan dukungan lebih didorong oleh kelelahan publik terhadap kondisi status quo ketimbang kepuasan terhadap opsi alternatif yang ada.










