TVRINews – Eropa Selatan
Gelombang Panas Ekstrem dan Karhutla Paksa Spanyol Nyatakan Darurat Nasional.
Lonjakan suhu ekstrem yang melanda Eropa Selatan memicu krisis kemanusiaan dan lingkungan yang masif. Sekitar 30.000 warga serta wisatawan di Prancis dan Spanyol harus meninggalkan kediaman dan lokasi liburan mereka setelah kebakaran hutan hebat meluas tanpa terkendali, didorong oleh gelombang panas laut yang menghantam kawasan Mediterania.
Di Spanyol, pemerintah pusat pada Kamis 23 Juli 2026 malam waktu setempat resmi mendeklarasikan status darurat nasional untuk wilayah Madrid serta Provinsi Avila. Keputusan ini diambil menyusul eskalasi kebakaran hutan yang memaksa pengerahan unit darurat militer guna mengamankan keselamatan publik.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyampaikan melalui platform X bahwa seluruh sumber daya negara telah dikerahkan untuk memadamkan api yang meluas di berbagai kawasan, termasuk Avila, Leon, Toledo, dan Madrid. Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi instruksi evakuasi dari otoritas berwenang.
Data dari Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa menunjukkan bahwa hampir 125.000 hektare lahan di Spanyol telah hangus terbakar tahun ini. Angka tersebut diperparah oleh rekor suhu panas yang mencapai 44,7 derajat Celsius di Cieza, Provinsi Murcia, serta rekor suhu harian di sejumlah kota seperti Albacete, Ávila, dan Teruel yang menembus 42 derajat Celsius.
Sementara itu, situasi di Prancis selatan tidak kalah mengkhawatirkan. Kebakaran hutan pinus yang sangat intens di dekat Bordeaux, tepatnya di barat daya pesisir Atlantik, memaksa evakuasi lebih dari 18.800 jiwa. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Regional, Marc Vermeulen, menyatakan bahwa api bergerak secara tidak menentu dengan kekuatan yang sangat besar, memaksa petugas bertahan dan melindungi kawasan permukiman secara bertahap.
Sejumlah warga yang terdampak menceritakan detik-detik menegangkan saat evakuasi darurat dilakukan. Patrick Martineau, seorang warga berusia 69 tahun asal Desa Le Porge, mengaku terkejut dengan bencana tersebut.
(Warga memandangi langit yang diterangi oleh kobaran api di Le Porge, Prancis barat daya, pada hari Kamis 23 Juli 2026. (Foto: Romain Perrocheau/AFP))
"Polisi datang menggedor pintu rumah. Ini sungguh menakutkan dan sulit dipercaya. Saat kami membeli rumah di sini, kami tidak pernah mengira akan ada risiko kebakaran," ujar Patrick kepada Agence France-Presse.
Krisis lingkungan ini turut diperburuk oleh fenomena gelombang panas laut yang memengaruhi sekitar 80 persen permukaan Laut Mediterania. Anomali suhu tercatat 5 derajat Celsius lebih panas dari rata-rata normal periode 1991 hingga 2020.
Para peneliti dan ilmuwan iklim memperingatkan bahwa pemanasan global telah memicu cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, meningkatkan risiko terjadinya skenario bencana yang jauh lebih buruk di masa mendatang. Mm
"Meskipun sulit untuk memprediksi seberapa jauh dampaknya, kita tidak dapat mengesampingkan skenario mengerikan seperti yang terlihat di California atau Australia, di mana kompleks kebakaran dapat menghanguskan ratusan ribu hingga jutaan hektare lahan," ujar Víctor Resco de Dios, seorang profesor teknik kehutanan dan perubahan global di Universitas Lleida.
Hingga kini, aparat penegak hukum di Prancis dan Spanyol masih terus menyelidiki pemicu utama serangkaian kebakaran tersebut, sementara tim pemadam kebakaran gabungan terus bekerja ekstra keras di tengah kondisi cuaca yang sangat kering dan angin kencang.









