TVRINews - Kyiv
Moskow dan Kyiv saling lempar ancaman keras di tengah kebuntuan garis depan pertempuran
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina kembali memasuki fase kritis setelah serangkaian serangan udara intensif, Terjadi Rabu 2 September 2026, menewaskan sedikitnya dua warga sipil di kota Dnipro, Ukraina tengah. Gempuran ini terjadi di tengah meningkatnya retorika ancaman dari Moskow dan Kyiv yang mengindikasikan eskalasi lanjutan pada tahun kelima invasi.
Berdasarkan laporan dari Angkatan Udara Ukraina, militer Rusia meluncurkan total 174 drone serang dengan separuhnya merupakan drone bertenaga jet yang sulit dicegat serta dua rudal balistik dan dua rudal berpanduan udara.
Kepala Administrasi Militer Regional Dnipropetrovsk, Oleksandr Hanzha, mengungkapkan bahwa hantaman tersebut mengenai gudang makanan milik sebuah jaringan ritel lokal. Peristiwa itu merenggut nyawa seorang pria dan seorang wanita, serta melukai sedikitnya enam orang lainnya.
"Moskow secara sistematis menargetkan fasilitas logistik dan sipil untuk melumpuhkan kehidupan sehari-hari serta merusak moril publik," ujar Hanzha dalam keterangannya.
Serangan serupa turut melanda kawasan lain. Di wilayah selatan Odesa, hantaman rudal merusak sebuah gedung hunian 24 lantai, menghancurkan sejumlah apartemen, dan melukai delapan orang termasuk seorang anak. Sementara itu, di wilayah Kyiv, pecahan peluru melukai dua warga dalam serangan udara yang telah berlangsung selama tujuh hari berturut-turut.
Di pihak lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan 130 drone Ukraina dalam semalam di 11 wilayah, Laut Hitam, serta Krimea.
Penjabat Gubernur Belgorod, Alexander Shuvayev, melaporkan bahwa serangan drone Ukraina di wilayah perbatasan tersebut menewaskan dua orang dan melukai 16 lainnya akibat gempuran yang terjadi 140 kali dalam kurun waktu 24 jam.
Ketegangan Politik dan Ancaman Global
Ketegangan di medan laga turut diiringi perang urat saraf antara para pemimpin kedua negara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dalam pernyataannya, memperingatkan maskapai asing bahwa wilayah udara Rusia tidak lagi aman menyusul operasi drone jarak jauh Kyiv.
"Tekanan militer ini bertujuan memaksa Rusia menerima perundingan damai yang adil," tegas Zelenskyy melalui media sosial, sembari mendesak komunitas internasional memperketat sanksi dan pasokan pertahanan udara.
Sebaliknya, Presiden Rusia Vladimir Putin menuding Kyiv melakukan "terorisme negara" dan menegaskan bahwa Moskow tidak akan bernegosiasi dengan pihak teroris.
Dalam konferensi pers di Kyrgyzstan, Putin juga menanggapi pertanyaan terkait penggunaan drone buatan Inggris oleh Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia. Ia menolak mengesampingkan kemungkinan pembalasan terhadap fasilitas militer Inggris, dan menyebut hal tersebut sebagai "rahasia militer."
Sementara itu, para analis militer internasional mencatat bahwa meski serangan udara meningkat, laju darat militer Rusia di garis depan mengalami stagnasi. Institut Studi Perang (ISW) yang berbasis di Washington melaporkan bahwa kemajuan ofensif musim semi-musim panas Moskow sangat terbatas dan jauh tertinggal dibandingkan capaian tahun sebelumnya akibat pertahanan Ukraina yang tetap kokoh.










