TVRINews – Kathmandu
Bayang-Bayang Banjir Nepal: Doa di Tengah Duka dan Kabar Keselamatan Wisatawan
Tragedi kemanusiaan melanda wilayah pegunungan Himalaya menyusul banjir bandang dahsyat yang dipicu oleh keruntuhan glasial pekan lalu. Di tengah upaya pencarian korban yang terus dilakukan oleh otoritas setempat, secercah harapan muncul setelah sejumlah wisatawan asing yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil melakukan kontak dengan pihak berwenang.
Kendati demikian, luka mendalam masih dirasakan oleh warga lokal yang harus merelakan anggota keluarga mereka melalui prosesi pemakaman simbolis.

(Warga terlihat berkumpul di tepi Sungai Trishuli yang meluap di distrik Nuwakot untuk mecarikan kerabat yang hilang, Nepal, Rabu, 2 September 2026.(Foto: AP News/Rajesh Kumar Singh))
Bencana yang bermula dari longsoran es dan bebatuan di pegunungan tersebut mengirimkan material lumpur serta air bah ke lembah-lembah di bawahnya.
Sungai-sungai yang melintasi Tibet dan Nepal meluap dengan cepat, menyapu bersih permukiman, jalan, hingga jembatan. Kementerian Luar Negeri Nepal mencatat sedikitnya 1.118 orang tewas, sementara ribuan lainnya masih dalam pencarian.
Di tengah situasi yang kelam, kabar baik datang dari kancah internasional. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyampaikan bahwa jumlah warganya yang hilang dalam bencana tersebut mengalami penurunan setelah beberapa di antaranya terkonfirmasi selamat.
"Di tengah semua tragedi ini, kita melihat beberapa berita positif. Hari ini, lima warga Australia lainnya telah dikonfirmasi selamat," ujar Albanese kepada para wartawan saat menghadiri KTT regional di Palau, Rabu 2 September 2026.
Pihak pariwisata Nepal turut mengonfirmasi perkembangan serupa. Sunil Sharma, juru bicara Nepal Tourism Board, mengungkapkan bahwa setidaknya lima wisatawan asing lain yang sebelumnya masuk dalam daftar hilang telah menghubungi pihak berwenang melalui surel maupun sambungan telepon.
Ritual Pelepasan Jiwa di Nuwakot
Bagi keluarga korban di distrik Nuwakot salah satu wilayah yang paling parah terdampak penantian panjang tanpa kepastian memicu keputusan berat untuk menggelar upacara duka secara adat. Sebagian keluarga memilih melaksanakan pemakaman simbolis demi memberikan ketenangan rohani bagi kerabat yang belum ditemukan.
Dalam tradisi Hindu, kremasi memegang peranan penting sebagai ritual akhir. Mukunda Rijal, salah satu warga setempat, menuturkan bahwa keluarganya terpaksa menggelar upacara tersebut setelah sepupu beserta anak-anak perempuan mereka tidak kunjung ditemukan.
Di sepanjang bantaran Sungai Trishuli, para pendeta Hindu menyusun jerami sebagai representasi anggota keluarga yang hilang, menutupinya dengan tumpukan kayu, lalu menyalakannya diiringi persembahan doa. Di sisi lain, otoritas Nepal juga mengambil langkah antisipatif dengan memakamkan jenazah yang ditemukan ke dalam makam sementara, lengkap dengan pengambilan sampel DNA serta dokumentasi ciri fisik guna memudahkan proses identifikasi di kemudian hari.
Perjuangan Evakuasi dan Pengungsi di Kathmandu
Sementara itu, upaya penyelamatan terus digenjot dari berbagai arah. Di perbatasan Tiongkok, kru penyelamat dilaporkan telah merampungkan pembuatan jalan darurat menuju lokasi bencana di Pelabuhan Gyirong.
Akses tersebut dibuka agar alat-alat berat dapat diterjunkan ke area perbatasan yang sebelumnya lumpuh tertimbun material longsor. Berdasarkan kantor berita Xinhua, wilayah Tiongkok mencatat 21 korban jiwa dan ratusan orang masih hilang.
Gelombang pengungsian turut mengalir ke ibu kota Nepal, Kathmandu. Sekitar 400 penyintas, mayoritas berasal dari Kota Timure, kini menempati Biara Yellow Gumba berkat bantuan logistik dari warga lokal dan lembaga amal.
Riya Tamang (21), seorang penyintas yang mengungsi bersama bayinya yang berusia 10 bulan kepada AP News , menceritakan detik-detik mencekam saat menyelamatkan diri dari terjangan air bah yang merenggut nyawa kakek dan neneknya.
"Saya adalah orang terakhir yang meninggalkan rumah. Sangat sulit untuk melarikan diri," kenangnya. Kendati kehilangan tempat tinggal, ia bersyukur suaminya yang bekerja di kawasan Gyirong selamat dan kini dapat terus dihubungi melalui panggilan video.










