TVRINews – Kinshasa
Transmisi komunitas yang masif mengancam, WHO proyeksikan ribuan kematian hingga September.
Otoritas kesehatan Afrika menghadapi tantangan krusial dalam menahan laju wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). Sebanyak 297 orang yang dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut kini hilang dari pantauan medis, memicu kekhawatiran serius akan terjadinya lonjakan transmisi komunitas yang tidak terkendali.
Direktur Jenderal Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Dr. Jean Kaseya, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terkait keberadaan ratusan pasien yang tidak terlacak tersebut.
"Ini adalah perhatian utama kami. Di mana orang-orang ini?" ujar Dr. Kaseya dalam pernyataan resminya yang dikutip minggu 28 Juni 2026.
Ketidakpastian ini diperparah oleh situasi kemanusiaan yang memburuk di wilayah konflik. Menurut Dr. Kaseya, lebih dari satu juta warga kini mengungsi di kamp-kamp yang sulit dijangkau oleh tenaga medis, sehingga upaya pelacakan kontak (contact tracing) menjadi lumpuh.
Proyeksi Epidemiologi yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan pemodelan yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases oleh kantor regional WHO untuk Afrika, wabah ini diprediksi akan terus memburuk. Model tersebut memperkirakan adanya 8.210 kasus dengan angka kematian mencapai 1.420 jiwa pada pertengahan September mendatang.
Selain itu, terdapat probabilitas 70 persen virus akan melintasi perbatasan menuju Sudan Selatan dalam beberapa pekan ke depan.
Hingga saat ini, data menunjukkan terdapat 1.118 kasus terkonfirmasi dan 291 kematian di DRC, serta 20 kasus dengan dua kematian di Uganda. Tingkat hunian di pusat-pusat perawatan Ebola kini telah mencapai 95 persen, padahal puncak epidemi diprediksi belum tercapai.
Krisis Pendanaan dan Kemanusiaan
Dr. Kaseya menekankan bahwa penanganan wabah ini tidak bisa dipisahkan dari penyelesaian krisis kemanusiaan yang ada. "Kami tidak bisa menghentikan wabah ini tanpa menyelesaikan isu kemanusiaan. Kami tidak memiliki gambaran utuh tentang apa yang terjadi di kamp-kamp pengungsian karena akses yang tertutup," jelasnya.
Dari total kebutuhan dana sebesar $1,4 miliar dolar AS yang mencakup respons medis dan kebutuhan kemanusiaan baru sekitar 13 persen dari komitmen dana internasional yang telah terealisasi.
Menanggapi situasi ini, otoritas DRC telah mengeluarkan aturan ketat yang mewajibkan masa karantina selama 21 hari bagi siapa pun yang keluar dari provinsi terdampak. Sementara itu, dunia medis tengah bersiap melakukan uji coba obat antivirus pertama untuk jenis virus Bundibugyo di DRC pada pekan mendatang, sebagai langkah krusial untuk memutus rantai penularan.










