TVRINews, Kuwait/Bahrain
Eskalasi militer di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, menyusul aksi balasan Amerika Serikat.
Ketegangan di kawasan Teluk kembali mencapai titik didih. Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal serta drone ke delapan fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain pada Minggu 28 juni 2024 dini hari.
Aksi ini merupakan respons langsung atas serangan udara terbaru yang dilancarkan Komando Pusat AS (CENTCOM) terhadap infrastruktur militer Iran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa operasi yang berlangsung antara pukul 02.00 hingga 03.00 waktu setempat tersebut merupakan langkah "tegas" terhadap tindakan Amerika Serikat sebelumnya.
"Operasi ini adalah tanggapan langsung atas serangan agresif yang dilakukan AS," demikian pernyataan resmi IRGC.
Dampak di Lapangan
Otoritas Kuwait mengonfirmasi sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat sejumlah proyektil, meski suara ledakan terdengar di berbagai wilayah. Sementara itu, di Bahrain, pemerintah mengaktifkan sirene darurat dan mengimbau warga untuk mencari tempat berlindung.
Sasaran serangan, menurut IRGC, meliputi Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan Markas Besar Armada Kelima AS di Bahrain. Pihak Iran berargumen bahwa serangan ini dipicu oleh aksi militer AS yang menghantam lima posisi pesisir Iran sebelumnya, yang menurut Washington dilakukan sebagai balasan atas insiden terhadap kapal komersial.
Krisis di Selat Hormuz
Konflik ini berakar pada ketegangan terkait pengamanan pelayaran di Selat Hormuz. Washington menuduh Teheran melanggar Memorandum Islamabad perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Pakistan pada 18 Juni lalu dengan menyerang kapal kargo berbendera Singapura, M/V Ever Lovely, dan kapal tanker M/T Kiku.
CENTCOM menyatakan bahwa serangan mereka ditujukan untuk melumpuhkan radar pesisir, sistem pertahanan udara, serta fasilitas penyimpanan drone Iran. "Pasukan CENTCOM tetap waspada dan siap merespons agresi berkelanjutan terhadap pelayaran komersial," tegas juru bicara CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Ancaman "Penyelesaian Total"
Menanggapi eskalasi ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras melalui unggahan di platform Truth Social. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan menoleransi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
"Sangat mungkin mereka tidak akan pernah belajar. Jika diperlukan, AS mungkin terpaksa menyelesaikan pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi," ujar Trump dalam pernyataannya.
Di sisi lain, Iran bersikeras bahwa mereka memiliki hak untuk mengawasi navigasi di Selat Hormuz. Teheran mengeklaim bahwa pengelolaan masa depan jalur strategis tersebut seharusnya dikoordinasikan dengan Oman sesuai kerangka kerja yang sedang dirundingkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa dari kedua belah pihak. Situasi di kawasan Teluk tetap dalam status siaga tinggi, sementara dunia internasional menanti apakah proses diplomasi dalam kerangka Memorandum Islamabad masih dapat diselamatkan atau justru akan runtuh total akibat pertikaian militer yang kembali membara.










