TVRINews - Washington
Kesepakatan di Washington menandai langkah awal diplomatik di tengah ketegangan militer yang masih membara di perbatasan.
Israel dan Lebanon secara resmi menandatangani perjanjian kerangka kerja trilateral di Washington pada Jumat waktu setempat.
Kesepakatan ini ditempuh sebagai upaya awal untuk meredakan permusuhan yang telah berlangsung selama beberapa dekade dan mengakhiri konflik intensif antara militer Israel serta kelompok militan Hezbollah di Lebanon selatan.
Upaya diplomatik yang dimediasi oleh Amerika Serikat ini dipandang sebagai titik balik krusial.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam upacara penandatanganan menyatakan bahwa kesepakatan ini menjadi fondasi bagi keamanan jangka panjang. Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa proses perdamaian masih berada pada tahap awal dan membutuhkan komitmen besar dari kedua belah pihak.
"Ini adalah awal dari sebuah permulaan. Masih terdapat banyak pekerjaan yang harus diselesaikan ke depan," ujar Rubio. Yang dikutip Arab News Sabtu 27 Juni 2026.
Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh Moawad, mengungkapkan optimisme bahwa perjanjian tersebut merupakan langkah nyata dalam memulihkan kedaulatan serta integritas wilayah Lebanon.
Menurutnya, kesepakatan ini krusial untuk memastikan penghentian permanen permusuhan dan memungkinkan warga sipil yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.
Di sisi lain, perwakilan Israel, Yechiel Leiter, menegaskan bahwa kesepakatan ini bertujuan untuk mengeliminasi pengaruh Iran dan membatasi kekuatan Hezbollah sebagai prasyarat bagi terciptanya perdamaian.
Namun, di lapangan, situasi tetap menunjukkan kompleksitas tinggi.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya menekankan bahwa militer Israel akan tetap mempertahankan "zona keamanan" di Lebanon selatan hingga Hezbollah melucuti senjatanya.
Netanyahu menambahkan bahwa penarikan pasukan hanya akan dilakukan secara bertahap, dengan memulai transisi kendali wilayah kepada militer Lebanon di dua area percontohan.
Sementara itu, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, tetap menuntut penarikan mundur penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon tanpa syarat.
Konflik yang dipicu oleh eskalasi ketegangan pada Maret lalu ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang masif.
Data otoritas Lebanon mencatat lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dan angka kematian telah melampaui 4.200 jiwa.
Meski gencatan senjata telah dideklarasikan awal bulan ini, pengamat internasional menilai situasi tetap rapuh mengingat perbedaan pandangan yang tajam mengenai syarat keamanan antara kedua belah pihak.
Perjanjian ini menjadi ujian bagi efektivitas diplomasi Washington dalam menengahi krisis di Timur Tengah, sembari menyeimbangkan tuntutan keamanan Israel dengan pemulihan kedaulatan Lebanon.










