TVRINews, Caracas
Akses ke Wilayah Terdampak Gempa Diperketat Saat Pencarian Korban Intensif.
Sebanyak 1.600 personel tim pencari dan penyelamat internasional telah tiba di Venezuela untuk membantu upaya evakuasi pasca-gempa kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang melanda negara tersebut pekan ini.
Bencana yang telah menelan lebih dari 1.430 korban jiwa ini memicu respons kemanusiaan global di tengah situasi yang kian mendesak.
Pemerintah Venezuela mengonfirmasi bahwa pengerahan tim ahli dari berbagai negara kini dipusatkan di ibu kota Caracas dan negara bagian La Guaira, wilayah yang mengalami kerusakan infrastruktur paling parah.
"Dalam beberapa jam terakhir, Venezuela telah menerima 17 penerbangan yang membawa lebih dari 1.600 anggota tim penyelamat, dan dalam 24 jam ke depan, kedatangan 25 penerbangan tambahan diharapkan tiba," ujar pejabat Kementerian Luar Negeri Venezuela, Oliver Blanco, melalui platform X Sabtu 27 Juni 2026.
Blanco menambahkan, "Kami berterima kasih kepada komunitas internasional atas dukungan dan solidaritasnya selama masa ketidakpastian bagi rakyat Venezuela ini."
Pengetatan Akses dan Kendala Logistik
Upaya pencarian sempat terkendala oleh aksesibilitas. Pada Jumat malam, pihak berwenang menutup jalur utama antara La Guaira dan Caracas guna memprioritaskan mobilitas kendaraan darurat.
Akses kini dibatasi secara ketat; warga sipil yang bukan bagian dari tim penyelamat resmi diwajibkan memiliki kredensial khusus untuk melintasi titik pemeriksaan.
Di La Guaira, yang dikenal sebagai destinasi pesisir, penduduk melaporkan sedikitnya 100 bangunan termasuk gedung hunian bertingkat tinggi mengalami kerusakan struktural serius atau runtuh.
Meski bantuan pemerintah mulai mengalir, warga sempat mengeluhkan minimnya kehadiran alat berat di lokasi-lokasi terpencil.
Krisis Kemanusiaan dan Estimasi Korban
Di tengah upaya penyelamatan, Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan dalam pidato televisi nasional bahwa 14.000 personel militer dan kepolisian telah dikerahkan ke La Guaira untuk memastikan keamanan dan melaksanakan prosedur sanitasi.
Pemerintah berupaya memulihkan layanan dasar di tengah pemadaman listrik yang meluas. Rodriguez mengklaim bahwa aliran listrik di 60% wilayah terdampak telah berhasil dipulihkan.
Namun, tantangan masih membayangi. Sementara pemerintah mencatat ratusan orang hilang, sebuah situs web yang dikelola oposisi melaporkan lebih dari 54.000 orang belum diketahui keberadaannya.
Bahkan, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan potensi korban jiwa bisa mencapai lebih dari 10.000 orang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi hampir 7 juta orang terdampak dengan estimasi kerugian material mencapai 6,7 miliar dolar AS.
Diplomasi Bencana
Respons internasional mencakup bantuan signifikan dari Amerika Serikat. Gedung Putih menyatakan sedang memobilisasi bantuan senilai 150 juta dolar AS serta melonggarkan sanksi untuk mempercepat arus logistik.
Militer AS juga telah mengirimkan dua kapal, serta helikopter dan pesawat pendukung untuk memperkuat operasi pencarian.
Presiden El Salvador, Nayib Bukele, turut memuji keberhasilan tim penyelamat negaranya yang beroperasi di La Guaira, termasuk keberhasilan mengevakuasi seorang remaja berusia 15 tahun dari reruntuhan.
Di sektor energi, Menteri Perminyakan Venezuela, Paula Henao, memastikan bahwa produksi minyak nasional tidak terdampak oleh gempa dan distribusi bahan bakar akan tetap dijamin guna mendukung operasional logistik selama masa darurat ini.










