TVRINews - Caracas
Di tengah lonjakan angka kematian yang melampaui 3.000 jiwa akibat gempa ganda yang meluluhlantakkan kawasan pesisir, Presiden Interim Venezuela membela upaya tanggap darurat pemerintah dan menepis kekhawatiran akan pecahnya kerusuhan sosial di masyarakat
Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodríguez, pasang badan membela langkah tanggap darurat pemerintahannya menyusul bencana gempa bumi ganda yang kini telah menewaskan lebih dari 3.000 jiwa.
Ia secara tegas menepis kekhawatiran akan terjadinya kekacauan sipil di tengah rasa frustrasi publik atas lambatnya bantuan di tahap awal krisis.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Informasi pada Minggu 5 Juli 2026 malam, tragedi yang terjadi pada 24 Juni lalu ini telah merenggut nyawa 3.342 orang,
sementara korban luka melonjak drastis hingga melampaui angka 16.700. Bencana seismik yang tercatat sebagai salah satu gempa paling mematikan dalam sejarah Amerika Latin ini telah meruntuhkan puluhan gedung dan menyebabkan ribuan warga kehilangan tempat tinggal, khususnya di wilayah pesisir La Guaira yang berlokasi di sebelah utara ibu kota Caracas.
Merespons gelombang protes dari warga yang menilai tindakan pemerintah yang didukung Amerika Serikat lamban sebelum tibanya bantuan internasional, Rodríguez bersikeras bahwa situasi tetap terkendali.
"Tidak akan ada kerusuhan sosial di sini. Apa yang kita saksikan saat ini adalah wujud solidaritas sosial yang sangat mendalam," tegas Rodríguez saat berpidato dalam sebuah upacara militer peringatan hari kemerdekaan Venezuela, mengutip dari laporan media internasional. Ia menambahkan bahwa ribuan aparatur negara beserta regu penyelamat telah dikerahkan ke berbagai titik untuk menggali puing-puing dan mencari korban selamat.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kelam. Memasuki hari kesebelas pasca-gempa yang bermagnitudo 7,2 dan 7,5 tersebut, tim pencari dan penyelamat (SAR) internasional mulai merampungkan misi operasi mereka. Di saat bersamaan, banyak keluarga yang masih harus berjibaku membongkar puing reruntuhan demi mengevakuasi jasad kerabat mereka.
Ketimpangan fasilitas kesehatan dan tingginya biaya pemakaman turut memperburuk duka para penyintas.
Rosa López, salah seorang warga, harus melewati birokrasi yang melelahkan setelah menantunya yang berusia 25 tahun,
José Antonio Toledo, ditemukan tewas tertimpa reruntuhan tempatnya bekerja sebagai penjaga keamanan.
Keluarga sempat membawa jenazah Toledo ke rumah sakit setempat, namun ditolak akibat kelebihan kapasitas. Jasad tersebut kemudian dipindahkan ke fasilitas lain hingga akhirnya hanya ditempatkan di area parkir terbuka.
Setelah berhasil diidentifikasi oleh dokter forensik, keluarga López sempat putus asa karena tidak memiliki dana sebesar 450 dolar AS (sekitar Rp6,8 juta) yang dipatok oleh pihak rumah duka.
Bantuan akhirnya tiba menjelang tengah malam ketika pemerintah kota menawarkan sebidang lahan gratis di pemakaman setempat.
Mengantisipasi hilangnya kesempatan tersebut, López bersama putrinya bergegas mendaki bukit menuju pemakaman di malam hari untuk menguburkan Toledo.
"Dia adalah sosok teladan, seorang pemuda yang gemar menolong sesamanya," kenang López.
Keluarga Toledo berhasil menyelamatkannya dari nasib dikuburkan secara massal, sebuah ketakutan yang kini membayangi banyak keluarga lain di Venezuela.
Ancaman pembuatan kuburan massal semakin nyata seiring dengan terus bertambahnya jumlah jenazah yang dievakuasi dari balik puing.
Joel Mirabal, seorang teknisi forensik yang telah bekerja tanpa henti selama sepekan terakhir, mengungkapkan betapa sulitnya proses identifikasi.
Menurut pria berusia 45 tahun itu, meski sekitar 60 hingga 70 persen jenazah masih memiliki kerabat atau tetangga yang dapat mengenali mereka, prosesnya sangat menguras emosi. Sebagian besar keluarga harus mengandalkan ciri fisik seperti tato, bekas luka, atau sisa pakaian.
"Kondisi mereka bahkan tidak terlihat 10 persen menyerupai wujud aslinya semasa hidup," tutur Mirabal saat mendeskripsikan kondisi para korban.
Bagi jenazah yang tak kunjung teridentifikasi, petugas akan mengirimkannya ke pusat spesialis forensik darurat di Pelabuhan La Guaira.
Sejumlah perusahaan swasta telah menyumbangkan kontainer pendingin berukuran besar guna membantu mengawetkan jenazah, tetapi volume jasad terus meningkat melampaui kapasitas penyimpanan.
"Sudah sangat jelas, kuburan massal harus segera disiapkan," pungkas Mirabal. "Skala keruntuhannya sangat masif, dan jenazah-jenazah ini tertimbun di bawah berlapis-lapis puing tebal."
Para petugas forensik memperkirakan bahwa proses evakuasi dan pengumpulan seluruh jenazah dari area bencana ini akan memakan waktu hingga tiga bulan ke depan.










