TVRINews – Teheran
Absennya putra Pemimpin Tertinggi Iran picu spekulasi kesehatan di tengah duka nasional
Di tengah gelombang duka yang menyelimuti Iran dalam rangkaian prosesi yang dijuluki sebagai "pemakaman abad ini", ketidakhadiran Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, memicu spekulasi luas di kalangan pengamat internasional dan domestik.
Pada Minggu 5 Juli 2026 ribuan pelayat memadati Grand Mosalla, Teheran, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Ali Khamenei yang wafat pada Februari lalu.
Meskipun tiga putra lainnya Masoud, Mostafa, dan Meysam terlihat hadir mendampingi Presiden Masoud Pezeshkian dan kepala Korps Garda Revolusi Ahmad Vahidi, sosok Mojtaba tetap tidak terlihat.

(Sejumlah tokoh, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian, hadir dalam pemakaman, namun Mojtaba Khamenei absen (Foto: BBC News))
Ketidakhadiran ini mempertebal rumor mengenai kondisi kesehatannya. Desas-desus yang beredar menyebutkan bahwa ia mengalami luka serius dalam serangan udara gabungan AS-Israel yang juga merenggut nyawa ayahnya.
Sejak penunjukannya pada awal Maret lalu, Mojtaba tercatat belum pernah muncul di hadapan publik, sebuah fakta yang semakin memperuncing kecurigaan terkait stabilitas internal rezim.
Ketegangan di Balik Prosesi
Di tengah khidmatnya upacara yang dipimpin oleh ulama terkemuka Syiah, Jafar Sobhani, Berdasarkan laporan BBC News, suasana di lapangan tetap diliputi ketegangan geopolitik.
Meskipun gencatan senjata antara Iran dan pihak lawannya masih bertahan, ancaman eskalasi militer tetap membayangi prosesi tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Axios, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa negosiasi perdamaian saat ini ditunda selama sepekan untuk menghormati rangkaian pemakaman.
Trump sempat melontarkan komentar kontroversial terkait berkumpulnya para pejabat tinggi Iran, yang memicu reaksi keras dari warga.
Menanggapi pernyataan Trump yang meragukan ketulusan duka masyarakat Iran, seorang pelayat bernama Zahra Safaei (50) menegaskan kepada Reuters, "Kami tidak melakukan revolusi 47 tahun lalu untuk meneteskan air mata palsu. Kami tidak mengorbankan semua martir ini untuk menangisi kebohongan."
Laporan dari The Associated Press dan Guardian juga mencatat seruan kekerasan terhadap pemimpin AS dan Israel di sela-sela pembacaan puisi sebelum salat jenazah, mencerminkan kebencian yang mendalam di akar rumput.
Tantangan Keamanan dan Logistik
Otoritas Iran memperkirakan antara 12 hingga 20 juta orang akan berpartisipasi dalam upacara yang direncanakan berlangsung sepanjang pekan di Iran dan Irak. Besarnya massa menimbulkan tantangan logistik yang masif.
Kantor berita resmi Iran, Irna, melaporkan bahwa lebih dari 4.000 orang telah mendapatkan bantuan medis di area Grand Mosalla karena kelelahan dan kondisi berdesakan, meski tidak ada laporan korban jiwa hingga berita ini diturunkan.
Jenazah Ali Khamenei kini disemayamkan bersama peti jenazah empat kerabatnya, termasuk cucunya yang berusia satu tahun, Zahra Mohammadi Golpayegani, yang turut menjadi korban dalam serangan di Teheran.
Rangkaian prosesi ini akan terus berlanjut. Setelah iring-iringan di ibu kota pada Senin 6 Juli, peti jenazah dijadwalkan dibawa ke kota suci Qom pada Selasa 7 juli, berlanjut ke situs keagamaan di Irak pada Rabu 8 juli , sebelum akhirnya dimakamkan di kampung halamannya di Mashhad pada Kamis 9 Juli 2026 mendatang.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran mengenai alasan absennya Mojtaba Khamenei dari seluruh rangkaian prosesi penghormatan terakhir sang ayah.










