TVRINews – Kyiv
Perdana Menteri baru Inggris, Andy Burnham, menegaskan komitmen penuh tanpa syarat untuk memperkuat pertahanan udara Kyiv di tengah eskalasi serangan udara Moskow yang semakin intensif.
Di atas geladak kapal induk HMS Queen Elizabeth yang bersandar di Pelabuhan Portsmouth, Inggris selatan, sebuah aliansi strategis baru ditempa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melangsungkan kunjungan luar negeri pertamanya sejak Andy Burnham resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris sepekan lalu.
Pertemuan tingkat tinggi ini digelar di tengah meningkatnya desakan kebutuhan militer Ukraina, khususnya dalam menghadapi gempuran rudal balistik Rusia yang menyasar infrastruktur vital menjelang musim dingin.
Burnham menegaskan bahwa keputusan menjadikan Zelenskyy sebagai pemimpin asing pertama yang ia sambut secara langsung bukan sebuah kebetulan. Pesan diplomatik dan militer yang dikirimkan London sangat jelas dan tegas.
"Anda adalah pemimpin pertama yang saya sambut secara langsung sejak menjabat, dan itu bukan suatu kebetulan," ujar Burnham di hadapan Zelenskyy. "Ini dimaksudkan untuk mengirimkan pesan yang sangat jelas: kami bersama Ukraina 100 persen, saya secara pribadi bersama Anda 100 persen, dan saya akan memenuhi setiap komitmen yang telah dibuat negara ini kepada Ukraina secara penuh." Senin 27 Juli 2026.
Bagi Zelenskyy, kunjungan ini mempertegas bahwa hubungan bilateral kedua negara berada dalam kondisi paling erat sepanjang sejarah konflik. Pertemuan ini sekaligus menjadi agenda penting sebelum Zelenskyy melanjutkan lawatannya ke Washington untuk menemui Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam perundingan bilateral tersebut, kedua pemimpin membahas secara mendalam pengadaan pencegat rudal tambahan dan proyek pertahanan bersama. Pemerintah Inggris mengumumkan langkah progresif dengan menyerahkan hak kekayaan intelektual sistem peperangan elektronik terbaru bernama "Stone Cloak". Teknologi canggih ini dirancang khusus untuk mengacaukan sistem pertahanan udara Rusia agar armada nirawak Ukraina tidak terdeteksi radar musuh.
Selain itu, London dan Kyiv tengah mematangkan rencana pendirian fasilitas produksi pertahanan skala besar di wilayah Inggris. Langkah ini melengkapi kerja sama sebelumnya terkait pengembangan teknologi drone militer modern.
Di sisi lain, intensitas pertempuran di lapangan kian tak terbendung. Angkatan Udara Ukraina melaporkan gelombang serangan udara masif yang melibatkan 147 pesawat nirawak jarak jauh oleh militer Rusia dalam kurun waktu semalam. Sebagian besar dari ancaman udara tersebut berhasil diintersep atau dilumpuhkan oleh sistem pertahanan Ukraina.
Kendati demikian, dampak gempuran tetap menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sipil yang parah di berbagai wilayah, termasuk Zaporizhzhia, Kharkiv, dan Nikopol. Jaringan logistik utama serta fasilitas energi sipil dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat hantaman bertubi-tubi.
Konflik juga merambah arena geopolitik yang lebih luas setelah Teheran melayangkan kecaman keras. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Ukraina melakukan pelanggaran piagam PBB menyusul serangan militer Kyiv terhadap sebuah kapal Iran di Laut Kaspia yang menewaskan seorang pelaut. Iran mengancam akan memberikan balasan tegas atas insiden tersebut.
Menanggapi ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, secara tegas menolak klaim Iran yang dianggapnya tidak berdasar. Sybiha menilai pasokan persenjataan Iran ke Moskow telah menjadikan Teheran sebagai pihak yang terlibat langsung dalam agresi militer di Ukraina, sehingga tidak memiliki legitimasi moral untuk memposisikan diri sebagai korban.









