TVRINews – Kongo
Krisis kesehatan global memburuk seiring Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo melaporkan lonjakan kasus Ebola yang kini melampaui angka 3.000 jiwa tanpa ketersediaan pengobatan resmi.
Situasi darurat kesehatan di Republik Demokratik Kongo mencapai babak baru yang mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan setempat mencatat jumlah total kasus konfirmasi Ebola telah menyentuh angka 3.075, dengan korban jiwa yang merenggut 1.354 nyawa.
Wabah yang secara resmi diumumkan sejak tanggal 15 Mei 2026 tersebut telah meluas ke lima provinsi utama. Wilayah terdampak meliputi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan di bagian timur, serta Haut-Uele dan Tshopo di wilayah timur laut. Di tengah krisis ini, otoritas kesehatan mencatat sebanyak 556 pasien telah dinyatakan sembuh.
Penyebaran eskalatif ini bermula ketika laporan awal mendeteksi 246 kasus suspek serta 65 kematian di Provinsi Ituri. Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 17 Mei menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan secara internasional.
Pejabat kesehatan menjelaskan bahwa wabah kali ini berasal dari varian langka virus Ebola, yakni virus Bundibugyo. Hingga saat ini, belum ada pengobatan maupun vaksin resmi yang disetujui secara medis untuk menangani galur spesifik tersebut.
Ebola merupakan penyakit yang memicu demam hemoragik parah dan telah merenggut ribuan nyawa di berbagai wilayah benua Afrika sejak pertama kali diidentifikasi. Virus ini pertama kali terdeteksi pada tahun 1976 melalui kemunculan wabah simultan di Nzara, Sudan, dan Yambuku, wilayah yang kini menjadi bagian dari Republik Demokratik Kongo.
Nama penyakit ini sendiri diabadikan dari Sungai Ebola, sebuah aliran air yang terletak di dekat desa tempat wabah mula-mula terdeteksi di Republik Demokratik Kongo.
Sebelum krisis di Kongo saat ini, parahnya dampak virus Ebola juga tercatat dalam sejarah lewat gelombang penyebaran di Afrika Barat yang bermula pada Desember 2013. Rangkaian wabah di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone pada kurun waktu 2014 hingga 2017 bahkan menginfeksi sekitar 30.000 orang dengan korban jiwa melampaui 11.000 orang.









