TVRINews – Katmandu
Otoritas bencana mengonfirmasi runtuhan batuan dan es di ketinggian 6.000 meter memicu banjir bandang susulan di Distrik Gorkha.
Hasil analisis Badan Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal mengonfirmasi bahwa runtuhan es dan batuan dari daerah pegunungan tinggi menjadi pemicu utama banjir bandang yang melanda Distrik Gorkha. Peristiwa ini mempertegas peningkatan kerentanan wilayah pegunungan Himalaya akibat ketidakstabilan struktur geologis.
Bencana yang terjadi pada Minggu 11 Oktober 2026 lalu tersebut menyebabkan lima orang dinyatakan hilang serta menghancurkan sedikitnya 200 unit rumah dan lima jembatan di kawasan Nepal tengah.
Laporan resmi otoritas setempat menunjukkan bahwa gelombang air bah terwujud setelah material longsoran es meruntuhkan celah batuan rapuh di ketinggian sekitar 6.000 meter di atas permukaan laut.
Peristiwa ini terjadi kurang dari dua bulan setelah tragedi serupa di Distrik Rasuwa pada 26 Agustus 2026. Bencana terdahulu memicu banjir bah dahsyat yang menewaskan lebih dari 1.400 jiwa dan menyebabkan lebih dari 5.000 orang hilang.
Kepala Badan Pengurangan Risiko Bencana Nepal, Dharam Raj Uprety, menegaskan bahwa pola bencana di Distrik Gorkha memiliki karakteristik yang serupa dengan tragedi di Rasuwa.
"Karakteristik bencana ini sangat mirip dengan apa yang kami saksikan di Rasuwa," ujar Dharam Raj Uprety kepada AFP. "Frekuensi kejadian ini menunjukkan betapa krusialnya pengawasan wilayah pegunungan serta peningkatan efektivitas sistem peringatan dini."
Uprety menambahkan bahwa peringatan awal yang diterima pihak berwenang sebelum air bah sampai ke pemukiman berhasil membantu proses evakuasi warga, sehingga jumlah korban jiwa dapat diminimalkan.
Laporan teknis otoritas bencana menjelaskan bahwa sebelum runtuhan utama terjadi, sejumlah longsoran skala kecil sempat menyumbat aliran sungai. Tekanan material tersebut akhirnya jebol dan mengalirkan debet air dalam volume besar ke sepanjang aliran Sungai Budhi Gandaki.
Gelombang banjir tertinggi diperkirakan mencapai 20 hingga 25 meter, hingga menerjang dan menghanyutkan area perkemahan proyek pembangkit listrik tenaga air di Salleri.
Para ilmuwan mengidentifikasi perubahan iklim global dan mencairnya lapisan es abadi (permafrost) sebagai faktor kunci yang meningkatkan risiko keruntuhan tebing es secara mendadak di kawasan Himalaya.
Dalam pidatonya di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu, Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyatakan bahwa bencana banjir yang berulang di wilayahnya merupakan sinyal peringatan serius bagi masyarakat internasional terkait ancaman nyata dari perubahan iklim.










