TVRINews - Kyiv
Infrastruktur Energi Kyiv dan Kharkiv Hancur Pascagempuran Rudal Malam Hari.
Lebih dari 600.000 warga di seluruh Ukraina kehilangan pasokan listrik setelah gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Rusia menghantam sejumlah infrastruktur vital pada Rabu 14 Oktober 2026 dini hari waktu setempat. Insiden tersebut menambah panjang daftar kerusakan fasilitas publik di tengah konflik yang kian memanas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa gempuran udara tersebut menyasar infrastruktur energi krusial di Kyiv, wilayah ibu kota, hingga kota Kharkiv di bagian timur laut. Dampak gempuran tersebut langsung melumpuhkan jaringan distribusi listrik secara luas.
Layanan Darurat Negara Ukraina (DSNS) melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 21 lainnya mengalami luka-luka di Kyiv akibat reruntuhan bangunan serta ledakan yang dipicu serangan tersebut. Petugas penyelamat hingga kini masih bersiaga di beberapa titik kerusakan.
Di pihak lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa operasi militer berskala besar yang dilancarkan sepanjang malam memang ditujukan untuk melumpuhkan fasilitas komunikasi dan jaringan energi di wilayah Kyiv dan Kharkiv, yang diklaim sebagai penunjang aktivitas militer Ukraina.
Selain melancarkan gempuran, Moskow juga mengklaim telah menggagalkan serangan balasan balik dari pihak Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan sebanyak 902 drone Ukraina berhasil dijatuhkan di beberapa wilayah Rusia, termasuk kawasan ibu kota Moskow serta Semenanjung Krimea.
Berdasarkan data dari Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan total 39 rudal balistik dan jelajah serta 128 drone dalam serangan terbaru ini. Dari jumlah tersebut, sistem pertahanan udara Ukraina mengklaim berhasil mengintersepsi empat rudal dan merontokkan 115 drone.
Perkembangan ini terjadi di tengah dinamika diplomasi internasional yang berliku. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim melalui unggahan di media sosial bahwa telah tercapai kesepakatan gencatan senjata di sektor energi antara kedua belah pihak.
"Terhitung mulai saat ini, terdapat gencatan senjata energi dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah setuju. Jangan melanggarnya!" tulis Trump dalam pernyataan tersebut.
Menanggapi hal itu, Presiden Zelensky menegaskan kesiapan pihaknya untuk menghentikan serangan terhadap kilang minyak dan fasilitas energi Rusia, dengan syarat Moskow mengambil langkah serupa secara konsisten.
Namun, prospek jeda pertempuran tersebut mendapat penolakan dari pihak Moskow. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa Ukraina tidak pantas mendapatkan jeda pertempuran dari gencatan senjata. Ia menilai kesepakatan semacam itu berpotensi dimanfaatkan pihak Eropa untuk terus memasok persenjataan baru ke Ukraina guna melanjutkan peperangan.
Konflik bersenjata berskala penuh ini terus berlangsung sejak invasi yang diluncurkan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 2022. Hingga saat ini, Rusia tercatat menguasai sekitar 20 persen wilayah teritorial Ukraina.










