TVRINews – Ankara, Turkey
Meski dibayangi kritik tajam Donald Trump, anggota NATO mulai merealisasikan kontrak besar untuk modernisasi alutsista dan keamanan kawasan.
Di balik barisan polisi berpakaian serba hitam dan spanduk biru raksasa bertuliskan "Kunci Menuju Perdamaian", kehadiran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi pusat perhatian yang mendominasi jalannya diplomasi.
Meskipun KTT ini bertujuan mempererat persatuan aliansi, posisi Trump sebagai tokoh yang kerap melontarkan kritik tajam terhadap NATO tetap membayangi agenda krusial tersebut.
Kedatangan sang presiden ke ibu kota Turki selasa 7 Juli 2026 kali ini disinyalir lebih didorong oleh kedekatannya secara personal dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang menyambutnya langsung di bandara dengan upacara militer yang megah.
Namun, di balik seremonial penyambutan, ketegangan muncul segera setelah Trump mendarat. Ia kembali menyinggung gagasan kontroversial mengenai akuisisi Greenland dari Denmark.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras, mengingat Perdana Menteri Denmark sebelumnya telah menegaskan bahwa langkah paksa AS terhadap wilayah tersebut dapat mengancam integritas aliansi.
"Ada risiko nyata bahwa Trump akan menjadi faktor pengganggu di KTT ini," catat laporan BBC News mengenai dinamika pertemuan tersebut.
Ketegangan berlanjut pada isu Iran. Trump secara terbuka mengekspresikan kekecewaan karena sekutu NATO tidak mendukung aksi militer AS terhadap Iran awal tahun ini. Bahkan, ia melayangkan kritik terhadap Inggris, kendati Perdana Menteri Sir Keir Starmer telah memberikan akses pangkalan udara bagi AS.
"Saya sedang menguji orang-orang. Saya ingin melihat apakah mereka akan ada di sana untuk kita, karena saya sering mengatakan bahwa kami membantu mereka, tetapi saya tidak yakin mereka akan melakukan hal yang sama untuk kami," ujar Trump saat merujuk pada kolaborasi pertahanan dengan Inggris.
Di tengah turbulensi politik tersebut, para delegasi NATO tetap berupaya fokus pada agenda teknis yang mendesak: rearmamen Eropa. Fokus utama pertemuan ini bergeser pada penguatan industri pertahanan kolektif untuk memitigasi ketergantungan dan meningkatkan kesiapan operasional.
Salah satu langkah nyata adalah pengumuman kontrak besar untuk armada pesawat angkut baru yang akan diproduksi oleh Airbus. Selain itu, aliansi memutuskan untuk memensiunkan pesawat peringatan dini AWACS yang telah menua dan menggantinya dengan teknologi GlobeEye dari Swedia.
Langkah ini mencerminkan kebutuhan mendesak bagi negara-negara Eropa untuk meningkatkan investasi pertahanan mereka. Meskipun rencana investasi pertahanan yang dibawa oleh pihak Inggris sempat dikritik karena dianggap jauh dari target yang disyaratkan oleh Strategic Defence Review, upaya kolaborasi industri pertahanan di Eropa tetap menjadi pilar utama untuk menjaga stabilitas kawasan di tengah ketidakpastian kebijakan Washington.










