TVRINews - Selat Hormuz
Washington tingkatkan serangan militer setelah tiga kapal dagang diserang di perairan strategis tersebut
Militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap target-target militer Iran pada Rabu 8 Juli 2026 dini hari, menyusul insiden penyerangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz. Eskalasi ini mengancam keberlangsungan kesepakatan sementara yang sebelumnya dirancang untuk meredam konflik antara kedua negara.
Serangan ini terjadi di tengah suasana duka mendalam saat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas di awal pecahnya perang. Situasi ini diprediksi akan mempersulit negosiasi diplomatik yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran internasional, menekan program nuklir Teheran, serta mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui media sosial, Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk konsekuensi tegas.
"Kami melancarkan serangan ini untuk menuntut biaya yang berat atas aksi penargetan dan penyerangan terhadap kapal komersial yang diawaki oleh warga sipil tak berdosa di jalur air internasional," bunyi pernyataan tersebut.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa militer memfokuskan target pada sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pesisir, serta lokasi peluncuran rudal antikapal dan drone.
Pejabat lain menambahkan bahwa intensitas serangan kali ini direncanakan jauh lebih besar dibandingkan dengan aksi balasan pada akhir Juni lalu. Menurutnya, karena Teheran tidak mengindahkan peringatan sebelumnya, Amerika Serikat kini "meningkatkan volume" tekanan militernya.
Ketegangan di Perairan Hormuz
Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan adanya serangkaian ledakan di wilayah Qeshm, Bandar Abbas, dan Sirik. Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, melalui unggahan di platform X, mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian sementara yang telah disepakati.
Buntut dari eskalasi ini, Amerika Serikat juga resmi mencabut izin penjualan minyak Iran yang sebelumnya diberikan sebagai bagian dari upaya perdamaian.
Otoritas Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa salah satu kapal tanker yang terkena proyektil sempat mengalami kebakaran saat melintas di lepas pantai Oman. Meskipun dua kapal lainnya mengalami kerusakan, pihak otoritas memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Tanggapan Internasional
Qatar secara terbuka mengutuk serangan tersebut. Majed Al-Ansari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, menyatakan bahwa kapal tanker milik Qatar, Al Rekayyat, menjadi sasaran dalam aksi yang dinilai tidak dapat diterima.
"Qatar menyatakan bahwa Iran memikul tanggung jawab hukum sepenuhnya atas tindakan tersebut," ujar Al-Ansari dalam sebuah pernyataan melalui platform X.
Saat ini, prosesi pemakaman Ayatollah Khamenei masih terus berlangsung. Jenazah mendiang telah dibawa ke kota suci Qom dan dijadwalkan akan dimakamkan pada Kamis di tempat kelahirannya, Mashhad.
Sementara itu, dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya, di tengah kekhawatiran bahwa konflik di salah satu jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia ini akan semakin tak terkendali.










