TVRINews – Guangxi
Ribuan warga terjebak di atap rumah saat badai ekstrem memicu banjir bandang dan fenomena tornado langka di berbagai wilayah Tiongkok.
Topan Maysak, badai pertama yang menghantam Tiongkok pada musim 2026, telah memicu bencana hidrometeorologi parah. Intensitas curah hujan yang ekstrem menyebabkan banjir bandang terjadi dalam hitungan menit, melumpuhkan infrastruktur, dan memaksa puluhan ribu penduduk mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Data resmi pemerintah Rabu 8 Juli 2026 menunjukkan setidaknya 21 orang dilaporkan meninggal dunia, dengan puluhan ribu lainnya harus dievakuasi akibat luapan sungai dan jebolnya tanggul. Di Provinsi Guangxi, air naik dengan kecepatan yang tidak terduga, merendam lantai pertama rumah warga dalam waktu singkat.
"Banjir datang begitu cepat. Warga bahkan tidak sempat mengambil persediaan makanan saat mereka harus melarikan diri," ujar seorang warga Desa Renhe, yang diidentifikasi sebagai Zhou, dalam keterangannya kepada BBC.
Situasi di lapangan digambarkan sangat kritis. Di beberapa area, penduduk terpaksa bertahan hidup di atap rumah sembari menanti tim penyelamat. Selain keterbatasan personel, evakuasi juga terkendala oleh kurangnya perahu yang memadai. Warga lainnya, Huang, menuturkan bahwa evakuasi di kotanya berlangsung sangat sulit karena air merendam seluruh akses dalam waktu kurang dari 10 menit.
"Kami tidak bisa menyelamatkan semua orang tepat waktu. Selain jumlah petugas yang terbatas, perahu penyelamat yang tersedia terlalu kecil untuk menjangkau titik-titik terjauh," tambah Huang.
Fenomena Tornado Langka
Di tengah krisis banjir, wilayah Provinsi Hubei, yang berjarak ratusan kilometer, justru dilanda fenomena cuaca yang jarang terjadi: tornado. Meteorolog menjelaskan bahwa pertemuan antara udara dingin dari utara dan udara hangat yang dibawa oleh Topan Maysak memicu instabilitas atmosfer ekstrem.
Kekuatan angin tornado ini tercatat sangat merusak, menyebabkan properti hancur dan menimbulkan korban jiwa. Media pemerintah melaporkan insiden tragis di Huanggang, di mana seorang pria tersedot keluar dari apartemennya di lantai 12 akibat jendela yang pecah diterjang angin kencang. Ia kini dilaporkan berada dalam perawatan intensif.
Seorang mahasiswa di Huanggang yang menyaksikan kejadian tersebut menuturkan kepanikannya. "Saya mengira itu hanya badai biasa, sampai saya melihat benda-benda beterbangan di luar jendela asrama," ujarnya.
Respons Pemerintah dan Ancaman Lanjutan
Menanggapi bencana ini, Presiden Xi Jinping telah menginstruksikan operasi penyelamatan habis-habisan (all-out rescue) untuk meminimalisir jatuhnya korban lebih lanjut. Prioritas saat ini difokuskan pada perawatan korban luka, relokasi pengungsi, serta mitigasi bencana secara efektif.
Namun, tantangan belum berakhir. Otoritas di Nanning mengeluarkan peringatan bahwa curah hujan ekstrem diprediksi masih akan berlanjut dan menghambat proses evakuasi.
Sementara itu, pantauan satelit menunjukkan Super Topan Bavi kini tengah bergerak melintasi Pasifik dan diprediksi akan menyentuh pesisir timur Tiongkok pada akhir pekan ini.
Bagi keluarga yang terpisah akibat komunikasi yang lumpuh dan aliran listrik yang terputus, masa depan masih diselimuti ketidakpastian. Banyak warga kini hanya bisa menanti kabar dari kerabat mereka yang terjebak di tengah genangan, sementara ancaman lain, seperti kemunculan ular dari peternakan yang hanyut terbawa banjir, semakin menambah kengerian di wilayah terdampak.










