TVRINews – Nepal/Taipe
Puluhan ribu warga terdampak dan terisolasi, bantuan logistik dikirim via jalur udara.
Upaya penyelamatan korban bencana banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok Sabtu 29 Agustus 2026 kembali dilanjutkan setelah sempat dihentikan sementara. Penghentian itu terpaksa dilakukan menyusul kekhawatiran meluapnya danau penahan atau barrier lake yang terbentuk akibat material longsoran di wilayah hulu lembah Himalaya.
Bencana yang dipicu oleh keruntuhan gletser pada Rabu 26 Agustus 2026 lalu, telah mengirimkan terjangan es, air, batu, serta lumpur dalam volume besar. Peristiwa ini menghancurkan permukiman warga, infrastruktur jalan, jembatan, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga air di sepanjang lembah sungai.
Televisi pemerintah Tiongkok, CCTV, melaporkan bahwa tim penyelamat dan kendaraan taktis sempat ditarik mundur ke dataran yang lebih aman. Langkah serupa juga diambil oleh otoritas keamanan Nepal yang menghentikan operasi pencarian selama 90 menit akibat kenaikan permukaan air yang terpantau mencapai 0,6 meter.
Namun, situasi berangsur terkendali setelah pemantauan lanjutan menunjukkan risiko luapan berada dalam batas aman.
"Karena risiko yang ditimbulkan oleh danau bendungan di hulu dinilai dapat dikendalikan, operasi penyelamatan untuk bencana tanah longsor Gyirong dengan cepat dilanjutkan dan ditingkatkan," demikian laporan CCTV.
Kendati ancaman gelombang susulan susut, situasi kemanusiaan di lapangan tetap memprihatinkan. David Fisher, selaku kepala delegasi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) untuk Nepal, mengungkapkan bahwa luapan danau tersebut menambah teror psikologis bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi di fasilitas umum.
"Ini adalah waktu yang sangat sulit," ujar David Fisher kepada Al Jazeera, menggambarkan kondisi para penyintas yang kini berlindung di gedung-gedung pemerintah dan sekolah.
Dampak kemanusiaan dari musibah ini terus bertambah seiring masuknya laporan dari berbagai titik isolasi. Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat setidaknya 579 jiwa meninggal dunia dan 1.924 orang masih dalam pencarian. Sementara itu, pihak berwenang Tiongkok melaporkan lima korban jiwa dan 558 orang hilang di wilayah Tibet.
Bishal Nath Upreti, Presiden Pusat Manajemen Bencana Nepal, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa kondisi di zona bencana sangat menantang. Terputusnya akses darat akibat hancurnya infrastruktur membuat para penyintas di sejumlah wilayah terpencil sulit dijangkau bantuan logistik.
Operasi darurat kini melibatkan pengerahan kekuatan besar dari kedua negara. Otoritas Nepal menerjunkan 30.000 personel keamanan untuk menyisir lembah-lembah terpencil, sementara Tiongkok mengerahkan sekitar 500 personel militer dan paramiliter, serta mengirimkan Perdana Menteri Li Qiang langsung ke lapangan guna memimpin koordinasi penanganan darurat.
Hingga Jumat, total 4.451 orang berhasil dievakuasi melalui 99 penerbangan helikopter. Kendati demikian, IFRC memperkirakan lebih dari 90.000 jiwa terdampak secara langsung oleh bencana ini, dengan sejumlah titik terparah di distrik Rasuwa yang hanya dapat diakses melalui jalur udara.










