TVRINews – Teheran, Iran
Pemerintah didesak kurangi ketergantungan asing di tengah rekor terendah nilai tukar rial.
Tekanan ekonomi yang mendera Iran memasuki babak baru setelah nilai tukar mata uang rial merosot tajam ke level terendah sepanjang sejarah. Menghadapi krisis yang kian dalam,
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mendesak pemerintah untuk memperkuat kemandirian nasional melalui penguatan sektor produksi domestik dan pengurangan ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui sebuah pesan resmi yang dirilis bertepatan dengan Pekan Pemerintah Jumat 28 Agustus 2026. Seruan ini muncul setelah mata uang rial menembus ambang batas psikologis baru, yakni melebihi dua juta rial per satu dolar AS di pasar bebas pekan ini. Penurunan drastis ini dipicu oleh kombinasi faktor struktural serta sanksi ekonomi lanjutan yang dijatuhkan oleh Washington.
Dalam pesannya, Khamenei meminta kabinet untuk memberikan perhatian serius terhadap berbagai persoalan penghidupan rakyat yang saling berkaitan. Ia secara khusus menyoroti masalah inflasi, tingkat pengangguran, kendali harga, serta tata kelola pasar barang dan jasa sebagai prioritas utama yang harus segera ditangani.
"Kunci utama untuk menyelesaikan seluruh persoalan ini terletak pada peningkatan keandalan terhadap produksi dalam negeri," ujar Khamenei dalam pesan resminya, sebagaimana dikutip dari kantor berita internasional.
Lebih lanjut, ia mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi dan pengarahan investasi yang lebih terarah ke sektor-sektor strategis. Kebijakan ekonomi perlawanan atau resistance economy sebuah strategi jangka panjang Iran untuk mengisolasi perekonomian domestik dari tekanan asing dan sanksi internasional kembali ditempatkan sebagai poros utama perencanaan pemerintah.
Kendati demikian, pemerintah tetap membuka ruang bagi perdagangan luar negeri secara terukur. Khamenei mengakui bahwa Iran masih membutuhkan pasokan barang esensial tertentu dari luar negeri, seraya menekankan agar aktivitas impor dikelola secara bijaksana bilamana kapasitas produksi nasional belum mencukupi.
"Kombinasi antara ekspansi produksi, manajemen impor yang cermat, dan pengawasan harga yang ketat diharapkan mampu mengikis titik-titik gelap perekonomian secara bertahap hingga tuntas," tambahnya.
Anjloknya nilai tukar rial di bawah level dua juta per dolar AS memperpanjang catatanburuk krisis moneter di negara tersebut. Kemerosotan nilai tukar ini telah menjadi tantangan menahun yang disebabkan oleh sanksi internasional, laju inflasi yang tinggi, serta terbatasnya akses perbankan Iran terhadap sistem keuangan global.
Perkembangan ini merupakan kemunculan kebijakan perdana dalam lanskap kepemimpinan baru di Teheran. Mojtaba Khamenei memegang tampuk kepemimpinan tertinggi menyusul wafatnya sang ayah, Ali Khamenei, dalam rangkaian serangan militer AS-Israel. Hingga berita ini diturunkan, pemimpin baru tersebut belum pernah menampakkan diri secara publik sejak pengangkatannya.










