TVRINews – Florida
Maskapai biaya rendah AS ini menutup seluruh operasional setelah kesepakatan penyelamatan dengan Gedung Putih menemui jalan buntu.
Spirit Airlines secara resmi mengumumkan penghentian seluruh operasionalnya yang berlaku efektif Sabtu 2 Mei pagi waktu setempat.
Keputusan drastis ini diambil setelah proposal penyelamatan (bailout) dari pemerintah Amerika Serikat gagal mencapai titik temu, mengakhiri upaya panjang maskapai dalam menghindari likuidasi.
Dalam pernyataan resminya, manajemen Spirit Airlines menyatakan bahwa perusahaan "tidak memiliki pilihan lain" selain membubarkan bisnisnya, menyusul beban berat akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) serta tekanan makroekonomi yang secara signifikan memperburuk prospek keuangan perusahaan.
"Tanpa adanya pendanaan tambahan yang tersedia bagi perusahaan, Spirit terpaksa memulai proses penutupan ini," tulis pernyataan maskapai yang dikutip Washington Post.
Seluruh jadwal penerbangan kini telah dibatalkan, dan pihak maskapai mengimbau para penumpang untuk tidak datang ke bandara.
Kegagalan Negosiasi Gedung Putih
Krisis ini mencapai puncaknya setelah rencana penyelamatan senilai $500 juta yang digagas pemerintahan Presiden Donald Trump gagal mendapatkan dukungan penuh.
Proposal tersebut awalnya diproyeksikan akan memberi pemerintah porsi kepemilikan saham yang signifikan dalam maskapai yang telah dua kali menyatakan kebangkrutan sejak tahun 2024 tersebut.
Presiden Trump, dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat siang, sempat memberikan sinyalemen bahwa diskusi masih berlangsung, namun tetap menekankan aspek efisiensi anggaran.
"Jika kita bisa melakukannya, kita akan melakukannya, tetapi hanya jika itu adalah kesepakatan yang menguntungkan. Kami mengupayakan kesepakatan yang ketat. Kami akan melakukannya atau tidak sama sekali," ujar Trump sebelum pengumuman resmi penutupan dirilis.
Faktor Eksternal dan Tekanan Industri
Presiden dan CEO Spirit Airlines, Dave Davis, menyampaikan apresiasinya kepada staf dan pemerintah atas upaya mempertahankan lapangan kerja.
Namun, ia menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar jet yang berkelanjutan yang melonjak hampir dua kali lipat sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran—telah menghabiskan likuiditas perusahaan.
Analis industri dari Atmosphere Research Group, Henry Harteveldt, menilai jatuhnya Spirit bukan disebabkan oleh faktor tunggal.
Menurutnya, Spirit telah lama berada di ambang keruntuhan akibat keputusan bisnis yang kurang tepat serta ekspansi berlebihan.
"Pelanggan inti Spirit, yang rata-rata berpenghasilan di bawah $80.000 per tahun, adalah kelompok yang paling terpukul oleh inflasi pascapandemi," ujar Harteveldt.
"Ini sangat disayangkan. Lebih dari 10.000 orang berpotensi kehilangan pekerjaan, dan kita kehilangan salah satu sumber kompetisi harga di pasar."
Dampak bagi Penumpang dan Pasar
Sebagai respons atas situasi ini, sejumlah maskapai besar seperti American Airlines, Frontier, dan United telah menyiapkan rencana darurat untuk membantu penumpang yang terlantar.
Frontier Airlines, melalui juru bicara Jennifer De La Cruz, menyatakan kesiapannya mendukung pelanggan yang terdampak dengan menyediakan opsi tarif rendah.
Spirit Airlines telah menjadi pionir model ultra-low-cost carrier di Amerika Serikat selama dua dekade terakhir.
Meskipun sering dikritik karena layanan minimalisnya, tarif murah yang ditawarkan Spirit telah mendemokrasi akses perjalanan udara bagi jutaan orang dan memaksa maskapai besar untuk memperkenalkan tiket kelas "ekonomi dasar".










