TVRINews – Taipe
Lin Chia-lung Pantau Pertemuan Trump-Xi Terkait Keamanan Selat Taiwan.
Pemerintah Taiwan menyatakan keyakinannya terhadap stabilitas hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat menjelang kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing.
Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung, menegaskan bahwa Washington telah berulang kali memberikan jaminan bahwa kebijakan terhadap pulau tersebut tetap konsisten.
Pernyataan ini muncul di tengah persiapan pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu hingga Jumat mendatang (13-15 Mei 2026).
Isu mengenai status Taiwan, yang diklaim oleh China sebagai wilayahnya, diprediksi akan menjadi agenda krusial dalam diskusi kedua pemimpin negara adidaya tersebut.
Komitmen Keamanan dan Diplomasi
Meskipun China tidak pernah melepaskan opsi penggunaan kekuatan militer untuk mengendalikan Taiwan, Amerika Serikat secara hukum tetap terikat untuk menyediakan sarana pertahanan bagi Taipei.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, pekan lalu yang menekankan pentingnya stabilitas di kawasan Selat Taiwan.
"Kami terus menjalin komunikasi yang berkesinambungan dengan Amerika Serikat, baik melalui pernyataan publik pemerintah AS maupun saluran non-publik.
Kami percaya diri pada perkembangan hubungan Taiwan-AS yang stabil," ujar Lin Chia-lung saat memberikan keterangan kepada media di parlemen Taipei, Senin 11 mei 2026.
Lin menambahkan bahwa pemerintah Taiwan memantau secara saksama setiap dinamika yang berkembang dari pertemuan Trump-Xi mendatang. "Pemerintah AS telah berulang kali menyatakan bahwa kebijakan mereka terhadap Taiwan tidak akan berubah," tegasnya.
Tantangan Anggaran Pertahanan
Di sisi lain, tantangan domestik muncul terkait upaya penguatan militer. Meski Washington terus mendorong sekutu utamanya untuk meningkatkan belanja pertahanan, parlemen Taiwan yang dikuasai oposisi baru-baru ini meloloskan anggaran pertahanan khusus yang jumlahnya lebih kecil dari permintaan pemerintah.
Kondisi tersebut memicu kekecewaan dari pihak Washington. Seorang pejabat senior AS pada hari Minggu menyatakan ketidaksenangannya atas persetujuan anggaran yang dinilai belum memenuhi kebutuhan pertahanan minimum yang diharapkan.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Lin berharap parlemen dapat mengambil langkah "remedial" atau perbaikan. Menurutnya, anggaran yang memadai sangat diperlukan untuk mendukung kebijakan keamanan nasional, mengingat perdamaian di Selat Taiwan adalah tujuan bersama antara Taiwan dan negara-negara dengan visi serupa.
"Perdamaian bergantung pada kekuatan. Diperlukan demonstrasi kemampuan pertahanan diri yang kuat untuk mencegah agresi, terutama di saat komunis China terus melakukan pembangunan kekuatan militer dan ekspansi otoriter," pungkas Lin.










