TVRINews, Italia
Layanan Penjara Israel Membantah Tuduhan Kekerasan Seksual Terhadap 430 Sukarelawan Bantuan Gaza.
Sejumlah aktivis kemanusiaan yang baru dibebaskan dari penahanan Israel setelah dicegat di atas kapal bantuan menuju Gaza, mengaku menjadi korban kekerasan fisik dan seksual.
Para pengelola aksi menyatakan beberapa di antara relawan harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami cedera serius, sementara sedikitnya 15 orang melaporkan telah mengalami kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.
Pihak Layanan Penjara Israel dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut. Hingga saat ini, laporan-laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Berdasarkan Kutipan The Guardian Jumat 22 Mei Mei 2026 bertajuk Gaza flotilla activists allege sexual assault and rape in Israeli detention, Pemerintah Jerman mengonfirmasi bahwa beberapa warga negaranya terluka dan menyebut tuduhan yang beredar sebagai perkara yang "serius". Sementara itu,
Sumber hukum di Italia menyatakan pihak kejaksaan setempat tengah meluncurkan investigasi atas dugaan tindak pidana, termasuk penculikan dan kekerasan seksual.
"Tuduhan yang diajukan adalah palsu dan sama sekali tidak memiliki dasar faktual," ujar juru bicara Layanan Penjara Israel dalam sebuah pernyataan tertulis.
"Semua tahanan dan narapidana ditahan sesuai dengan hukum, dengan menghormati hak-hak dasar mereka, dan di bawah pengawasan staf penjara yang profesional dan terlatih. Perawatan medis diberikan berdasarkan penilaian medis profesional dan sesuai dengan pedoman kementerian kesehatan."
Militer Israel melimpahkan pertanyaan terkait kasus ini kepada Kementerian Luar Negeri, yang kemudian meneruskannya kembali ke pihak layanan penjara.
Kecaman Internasional dan Investigasi Hukum
Pasukan Israel sebelumnya menangkap 430 orang di atas 50 kapal di perairan internasional pada Selasa lalu. Langkah tersebut dilakukan guna menghentikan flotilla relawan yang berusaha membawa pasokan bantuan ke Jalur Gaza.
Tuduhan penganiayaan ini kian meningkatkan tekanan terhadap otoritas Israel untuk menjelaskan perlakuan mereka terhadap para tahanan.
Situasi memanas setelah rekaman video Menteri Keamanan Nasional Israel yang mengejek para aktivis di dalam penjara memicu kecaman luas di tingkat internasional. Italia bahkan menyatakan bahwa negara-negara anggota Uni Eropa kini sedang mendiskusikan sanksi terhadap menteri tersebut, Itamar Ben-Gvir.
Melalui aplikasi pesan Telegram, penyelenggara Global Sumud Flotilla menyatakan:
"Setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. (Tahanan) ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang. Di saat mata dunia tertuju pada penderitaan para peserta kami, kami menegaskan bahwa ini hanyalah sekilas dari brutalitas yang dipaksakan Israel setiap hari terhadap sandera Palestina."
Kesaksian dari Lapangan
Luca Poggi, seorang ekonom asal Italia yang turut ditahan dari flotilla tersebut, memberikan kesaksiannya setibanya di Roma.
"Kami ditelanjangi, dihempaskan ke tanah, dan ditendang. Banyak dari kami yang disengat dengan Taser (alat penyengat listrik), beberapa dilecehkan secara seksual, dan beberapa dilarang menemui pengacara," kata Poggi.
Sumber hukum di Italia menyebutkan bahwa jaksa di Roma sedang menyelidiki potensi tindak pidana penculikan, penyiksaan, dan kekerasan seksual. Mereka dijadwalkan akan mendengarkan langsung kesaksian dari para aktivis yang telah kembali ke Italia.
Di tempat terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman melaporkan bahwa pejabat konsuler yang menemui para aktivis Jerman di Istanbul melihat sejumlah relawan mengalami luka-luka dan sedang menjalani pemeriksaan medis. Pihak Jerman menegaskan bahwa perlakuan manusiawi terhadap warga negaranya adalah "prioritas mutlak" dan mendesak adanya penjelasan menyeluruh dari Israel.
Dampak Diplomatik di Eropa
Sabrina Charik, yang membantu mengoordinasikan kepulangan 37 warga negara Prancis dari flotilla tersebut, menyatakan bahwa lima peserta asal Prancis harus dirawat di rumah sakit di Turki. Beberapa di antaranya mengalami patah tulang rusuk atau retak tulang belakang. Ia juga menambahkan adanya tuduhan rinci mengenai kekerasan seksual dan pemerkosaan.
Dalam sebuah unggahan di Instagram oleh kelompok aktivis yang telah diverifikasi, seorang warga negara Prancis, Adrien Jouan, memperlihatkan luka memar di sepanjang punggung dan lengan bawahnya.
Para aktivis menyatakan bahwa sebagian kekerasan terjadi di laut lepas setelah kapal mereka dicegat oleh pasukan angkatan laut Israel, dan sebagian lagi terjadi setelah penangkapan serta pemenjaraan di Israel.
Para aktivis dari berbagai negara Eropa diperkirakan akan terus berdatangan ke negara asal mereka melalui penerbangan dari Turki, setelah dideportasi oleh Israel. Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menyampaikan bahwa 44 anggota flotilla asal Spanyol dijadwalkan tiba di Madrid dan Barcelona, di mana empat di antaranya langsung menerima perawatan medis.
Ketegangan diplomatik ini meningkat selepas negara-negara Barat mengekspresikan kemarahan atas video yang diunggah oleh Ben-Gvir, yang memperlihatkan dirinya tengah mengolok-olok para aktivis yang sedang ditelungkupkan ke tanah di dalam sel.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, di sela-sela pertemuan NATO di Swedia, menegaskan bahwa ia terus berkomunikasi dengan seluruh mitra Uni Eropa "agar keputusan cepat dapat segera diambil untuk menjatuhkan sanksi" terhadap Ben-Gvir.










