TVRINews, Washington DC
Washington dan Tehran mempersempit perbedaan dalam negosiasi damai yang dimediasi oleh Pakistan serta Qatar.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik tajam terhadap Iran dengan menyebut negara tersebut sebagai penyokong utama aktivitas terorisme global. Kendati demikian, Trump memberikan sinyalemen kuat bahwa ketegangan bersenjata yang melibatkan kedua negara tersebut berpotensi segera berakhir.
Dalam pidatonya di hadapan para pendukung Partai Republik di Rockland County, New York, menjelang pemilu sela, Trump menegaskan komitmen AS untuk membatasi ruang gerak Teheran, khususnya terkait ambisi senjata nuklir.
"Pasukan kita memastikan bahwa Iran, sponsor teror nomor satu di dunia yang mendistribusikan dana ke berbagai penjuru demi memicu kekacauan, tidak akan lagi melakukan hal itu. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujar Trump di mimbar politik tersebut.
Sinyal Berakhirnya Konflik dan Pendanaan Militer
Di hadapan publik New York, Trump juga mengindikasikan adanya titik terang dari konfrontasi berkepanjangan ini. Ia mengklaim bahwa kebijakan luar negeri pemerintahannya telah berhasil menekan pergerakan Teheran secara signifikan.
"Kita telah menghentikan mereka. Mereka tidak akan pernah mempunyai senjata nuklir. Masalah ini akan segera kita selesaikan dalam waktu dekat," lanjutnya.
Selain membahas dinamika Timur Tengah, Trump memaparkan strategi pembiayaan operasi militer AS di luar negeri. Ia mengeklaim bahwa seluruh biaya logistik perang telah tertutupi oleh pendapatan sektor minyak dari Venezuela, yang berhasil diamankan menyusul kejatuhan Presiden Nicolas Maduro awal tahun ini.
Trump juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menegaskan kembali keberhasilannya dalam membangun postur militer terkuat sepanjang sejarah AS pada periode pertama pemerintahannya.
Pidato tersebut sempat terhenti sejenak akibat aksi protes dari seorang demonstran. Merespons situasi tersebut, Trump menginstruksikan petugas keamanan untuk tidak bertindak represif, seraya menambahkan secara berseloroh bahwa pernyataan itu ia sampaikan demi kepatuhan hukum.
Intensifikasi Diplomasi Pakistan dan Qatar
Pada saat yang sama, koridor diplomasi internasional justru bergerak semakin masif guna meredam konflik. Kantor berita semi-resmi Iran melaporkan bahwa delegasi dari Qatar tengah berada di Teheran untuk menggelar pertemuan intensif dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Langkah mediasi ini mendapat dukungan penuh dari Pakistan. Panglima Militer Pakistan, Field Marshal Asim Munir, dilaporkan telah mendarat di Teheran. Ini merupakan kunjungan kedua Munir dalam misi perdamaian tersebut.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, tetap bertahan di ibu kota Iran untuk menjembatani komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.Sejumlah laporan diplomatik mengindikasikan bahwa para negosiator kini mulai menemukan titik temu terkait draf kesepakatan damai.
Akselerasi diplomasi ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan Islamabad dalam mengawal kesepakatan gencatan senjata pada 8 April lalu. Pakistan juga tercatat sukses memfasilitasi dialog tingkat tinggi antara pejabat AS dan Iran pada 11-12 April, dan saat ini tengah mengupayakan pembentukan forum negosiasi langsung putaran berikutnya.










