TVRINews – London, Inggris
Belajar dari Tragedi Masa Lalu, Respons Cepat dan Kepercayaan Komunitas Menjadi Kunci Utama Penanganan Virus Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Adegan dramatis yang kini berlangsung di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), di mana para petugas medis berkejaran dengan waktu untuk meredam lonjakan kasus Ebola, kembali membangkitkan memori kelam bagi mereka yang pernah berada di garis depan pandemi serupa.
Sepuluh tahun lalu, Patrick Faley menjadi salah satu saksi hidup dari pusaran wabah terburuk sepanjang sejarah di Afrika Barat. Sebuah krisis kemanusiaan yang merenggut lebih dari 11.000 jiwa hanya dalam kurun waktu dua tahun, sebagian besar tersebar di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.
"Saya menyaksikan sendiri tim pemakaman membawa delapan dari mereka," kenang Faley, seorang penyintas Ebola, saat diwawancarai oleh BBC News.
"Mereka memasukkan jenazah-jenazah itu ke dalam kantong dan membawanya ke pemakaman. Saya sempat menjalin pertemanan baru di sana, meski pada akhirnya mereka semua meninggal. Hanya saya satu-satunya orang yang tersisa di tempat itu."
Bagi Faley, ingatan kolektif tentang kematian rekan-rekannya memicu pertanyaan mendasar mengenai refleksi dan evaluasi yang dapat diterapkan pada penanganan wabah terbaru di wilayah timur RD Kongo.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gelombang kali ini telah merenggut lebih dari 170 nyawa.

(Foto: BBC News)
Kilas balik ke belakang, Faley awalnya direkrut sebagai sukarelawan komunitas oleh Kementerian Kesehatan Liberia untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya Ebola. Ia berjalan dari desa ke desa, menjelaskan bahwa virus mematikan ini menular melalui kontak cairan tubuh, sekaligus mengimbau warga untuk menghentikan kebiasaan jabat tangan.
Tugasnya juga mencakup memitigasi rumor dan memberikan pemahaman logis mengapa tradisi berkabung setempat seperti memandikan jenazah harus dilarang demi keselamatan publik.
Namun, ironi menghampirinya saat ia menghadiri pemakaman seorang rekan kerja yang wafat akibat virus tersebut. Faley mengaku lengah dan melupakan protokol kesehatan yang kerap ia kampanyekan sendiri.
"Anda secara refleks bersalaman; Anda memeluk orang lain," ujarnya. "Seketika lupa bahwa kita sedang berada di tengah krisis, sebuah situasi darurat nasional."
Tiga hari pasca-pemakaman, Faley jatuh sakit. Statusnya berubah seketika dari tenaga kesehatan menjadi pasien. Ia dievakuasi ke ibu kota Monrovia, ditempatkan di bangsal darurat yang overkapasitas dan dipenuhi oleh jasad pasien yang gugur.
"Kami duduk di dalam ambulans, dan orang-orang bertumbangan begitu saja di depan rumah sakit," tuturnya.
Meski Faley berhasil pulih, virus tersebut telanjur menginfeksi istri dan putranya. Sang istri berhasil selamat, namun putra mereka yang baru berusia empat tahun, Momo, meninggal dunia dalam tragedi tersebut.
Pentingnya Kecepatan dan Kepercayaan Komunitas
Rekam jejak epidemiologi dari Afrika Barat satu dekade silam kini menjadi cetak biru sekaligus peringatan dalam merespons lonjakan kasus di RD Kongo. Saat ini, kebijakan pelarangan pemakaman bagi suspect Ebola mulai memicu resistensi sosiologis.
Di dekat episentrum kota Bunia, massa yang marah dilaporkan membakar sebagian fasilitas rumah sakit setelah otoritas menolak menyerahkan jenazah anggota keluarga mereka.
Dr. Patrick Otim, Manajer Area WHO untuk Afrika, menegaskan bahwa merangkul komunitas lokal secara persuasif adalah elemen krusial yang tidak boleh diabaikan.
"Salah satu pelajaran terbesar dari wabah di Afrika Barat dan epidemi Ebola sebelumnya di RD Kongo adalah bahwa faktor kecepatan adalah segalanya," jelas Dr. Otim kepada media.
"Keterlambatan awal dalam mendeteksi kasus, mengisolasi pasien, dan mendekati komunitas dapat membuat rantai penularan meluas dengan sangat cepat."
Ia menambahkan bahwa intervensi medis murni tidak akan pernah cukup tanpa adanya modal sosial berupa kepercayaan publik. "Pemakaman yang aman dan bermartabat, keterlibatan tokoh adat atau pemimpin lokal, serta komunikasi yang transparan sama pentingnya dengan keberadaan laboratorium dan pusat pencatatan medis."
Wabah yang mendera RD Kongo saat ini tercatat sebagai peristiwa yang ke-17 sejak virus Ebola pertama kali diidentifikasi di wilayah tersebut pada tahun 1976. Namun secara global, ini merupakan kemunculan ketiga yang langka dari spesies Bundibugyo, jenis virus yang jauh lebih jarang bermutasi dibandingkan spesies Zaire yang lebih dominan.
Tantangan Ilmiah dan Kesenjangan Investasi
Jika wabah besar di Afrika Barat berhasil diredam dalam dua tahun menggunakan vaksinasi massal, para pakar memperingatkan bahwa hingga detik ini belum ada vaksin atau pengobatan spesifik yang disetujui untuk spesies Bundibugyo.
"Hanya karena sebuah vaksin efektif melawan satu jenis virus tertentu, tidak berarti vaksin tersebut akan bekerja melawan jenis lainnya," ujar Profesor Thomas Geisbert, pakar virus terkemuka dari University of Texas Medical Branch, AS, saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Profesor Geisbert merupakan satu dari dua peneliti yang menemukan Ervebo, vaksin Ebola pertama di dunia yang diakui secara global.
"Saat ini, Ervebo menjadi satu-satunya vaksin yang tersedia dalam sistem logistik darurat global," tambahnya. Secara genetik, urutan RNA spesies Bundibugyo berbeda sekitar 30 persen dari spesies Zaire, membuat vaksin yang ada saat ini tidak efektif.
WHO memproyeksikan butuh waktu hingga sembilan bulan untuk memformulasikan vaksin yang efektif. Kendati demikian, angin segar datang dari Universitas Oxford, Inggris, yang baru saja mengumumkan pengembangan kandidat vaksin baru yang diprediksi siap memasuki uji klinis dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Tantangan terbesar transisi riset dari laboratorium menuju produksi massal terletak pada regulasi ekonomi. Profesor Geisbert mengungkapkan bahwa biaya manufaktur dan uji klinis dapat menelan dana lebih dari 1 miliar dolar AS.
Nilai investasi dengan "deretan angka nol yang panjang di belakang simbol dolar" ini dinilai belum menjadi prioritas bagi industri farmasi multinasional karena pertimbangan profitabilitas.
Kondisi tersebut dikritik tajam oleh Wallace Bulimo, Profesor Biokimia dari Universitas Nairobi, Kenya. Menurutnya, situasi di RD Kongo merefleksikan pengabaian global terhadap ancaman penyakit tropis menular.
"Mengapa kita belum melakukan riset mendalam pada virus ini? Padahal kita tahu virus ini nyata dan ada sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2007. Kita seharusnya tidak pernah mengabaikannya," cetus Bulimo.
Geopolitik dan Masa Depan Penanganan
Di sisi lain, Faley mengingatkan para petugas medis di lapangan mengenai risiko psikologis yang timbul akibat narasi publik yang keliru. Menurutnya, mengumumkan secara masif bahwa wabah ini "belum ada obatnya" justru berpotensi kontraproduktif.
"Jika Anda terus mengumumkan di radio bahwa Ebola tidak memiliki obat, warga yang sakit tidak akan mau mencari pertolongan medis. Bagi mereka, datang ke pusat perawatan sama saja dengan menjemput ajal," papar Faley. Kesalahan strategi komunikasi ini dinilai dapat memicu stigma sosial dan keputusasaan masif.
Pelajaran lain yang digarisbawahi oleh Faley adalah pola penanganan internasional yang kerap mengabaikan dinamika lokal melalui mobilisasi organisasi asing secara masif. Pekan ini, berton-ton bantuan logistik dan personel dari badan-badan PBB mulai dialirkan ke Provinsi Ituri, episentrum wabah.
"Kedatangan orang asing dalam jumlah besar ke komunitas lokal justru kerap memicu kecemasan kolektif. Di Liberia dahulu, pada fase awal, masyarakat memilih menyangkal keberadaan penyakit dan melarikan diri karena panik melihat gelombang masuknya LSM asing," kenang Faley.
Merespons kekhawatiran tersebut, WHO menegaskan bahwa kendali operasi sepenuhnya berada di tangan Pemerintah RD Kongo. Wilayah operasi ini sendiri dikenal kompleks karena faktor sosiogeografis dan gangguan keamanan dari kelompok militan bersenjata yang telah berlangsung bertahun-tahun.
"RD Kongo memiliki jajaran epidemiolog dan perespons Ebola paling berpengalaman di dunia," puji Dr. Otim. "Dalam dekade terakhir, negara ini berhasil mengendalikan beberapa wabah sekaligus membangun sistem pengawasan, kapasitas laboratorium, manajemen kasus, dan strategi vaksinasi yang sangat solid."
Bagi Dr. Otim, kendala utama saat ini bukan terletak pada kompetensi medis, melainkan medan operasional yang tidak menentu akibat konflik bersenjata, mobilisasi pengungsi yang masif, keterbatasan infrastruktur, serta tingginya mobilitas populasi antar-wilayah.
Meski indikator epidemiologi menunjukkan situasi kritis, para ilmuwan melihat secercah harapan dari karakteristik virologi Bundibugyo yang memiliki tingkat mortalitas sekitar 30 persen relatif lebih rendah dibandingkan spesies Ebola lainnya. Namun, Profesor Geisbert memperingatkan agar pemangku kebijakan tidak lengah.

(Foto: Staf medis mengevakuasi seorang pasien Ebola menuju pusat penanganan di Rwampara, Kongo, 21 Mei. Hingga saat ini, tercatat ada 177 kasus kematian yang diduga akibat penyakit tersebut. [Moses Sawasawa/AP])
"Di satu sisi, angka kematian historis Bundibugyo memang lebih rendah. Namun, masa inkubasinya bisa jauh lebih panjang. Artinya, ada potensi individu yang terinfeksi tetap beraktivitas di tengah masyarakat tanpa gejala dalam waktu lama dan menularkannya ke orang lain. Ini adalah tantangan riil di lapangan," pungkas Geisbert.
Kasus pertama dalam wabah ini diketahui menimpa seorang perawat yang mulai bergejala pada 24 April lalu, namun otoritas membutuhkan waktu hingga tiga minggu hanya untuk mengonfirmasi jenis patogen secara akurat.
Guna mengejar ketertinggalan tersebut, WHO kini memprioritaskan penggunaan darurat obat antivirus eksperimental Obladesivir di bawah protokol pengawasan ketat. Obat yang awalnya dikembangkan saat pandemi Covid-19 ini diharapkan mampu memutus rantai replikasi virus pada kontak erat pasien.
Menutup pandangannya, Patrick Faley menyampaikan pesan solidaritas bagi masyarakat RD Kongo bahwa badai kemanusiaan ini pasti akan berlalu.
"Tangan kami terbuka lebar sebagai warga Liberia. Kami siap membantu rekan-rekan kami yang berhasil bertahan hidup, memberikan mereka perspektif yang benar tentang apa artinya menjadi seorang penyintas Ebola. Saya akan selalu ada di sini untuk menyuarakan hak-hak para penyintas," tutup Faley.










