TVRINews – Kherson
Otoritas Ukraina mengevakuasi ratusan warga sipil dari wilayah Kherson selatan menyusul berakhirnya jeda kemanusiaan enam hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan Vatikan.
Militer Ukraina mengonfirmasi evakuasi 167 warga sipil dari titik-titik rawan di wilayah selatan Kherson pada hari Minggu 1 November 2026. Langkah darurat ini diambil menjelang berakhirnya masa berlaku gencatan senjata lokal sementara yang disepakati di kawasan tersebut.
Jeda pertempuran selama enam hari di Oleshky dan sekitarnya tercatat sebagai penghentian permusuhan lokal terpanjang sejak invasi skala penuh Rusia dimulai pada 2022. Kesepakatan ini terwujud melalui upaya mediasi Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, serta keterlibatan aktif dari Paus Leo.
Berdasarkan keterangan resmi Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina melalui saluran Telegram, proses evakuasi melibatkan unit kerja sama sipil-militer dari kelompok komando "Selatan" serta otoritas daerah setempat.
"Unit kerja sama sipil-militer dari kelompok pasukan 'Selatan', bekerja sama dengan perwakilan otoritas lokal, telah mengevakuasi 167 warga sipil ke titik-titik aman di wilayah Kherson," demikian pernyataan Staf Umum Ukraina.
Lebih lanjut, pihak militer merinci bahwa rombongan evakuasi tersebut mencakup 22 anak-anak serta 21 penyandang mobilitas terbatas yang memerlukan pendampingan khusus.
Menanggapi situasi krusial ini, Gubernur Wilayah Kherson, Oleksandr Prokudin, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan seiring semakin dekatnya batas waktu kedaluwarsa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada tengah malam waktu Moskow (21.00 GMT).
"Saya juga sangat mendesak Anda untuk tidak mengunjungi apa yang disebut 'zona merah' yaitu wilayah dan permukiman di dekat Sungai Dnipro," ujar Prokudin melalui Telegram. "Intensitas serangan Rusia di sana tetap tinggi, dan ancaman terhadap keselamatan jiwa sangat ekstrem."
Dari pihak Moskow, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, sebagaimana dikutip oleh berbagai kantor berita Rusia, menyampaikan pandangan positif terkait kelancaran operasi kemanusiaan di Oleshky serta koordinasi yang terjalin antara komisaris hak asasi manusia dari kedua negara.
Sementara itu, Paus Leo menyatakan harapannya agar kerja sama antara Rusia dan Ukraina dalam implementasi gencatan senjata di Oleshky dapat membuka jalan bagi perundingan damai yang lebih luas di masa mendatang.
Senada dengan hal tersebut, Melania Trump melalui akun media sosial X menuliskan bahwa gencatan senjata ini telah memberikan kebebasan bergerak bagi warga setempat, akses terhadap pasokan makanan, air bersih, obat-obatan, serta mengembalikan martabat hidup tanpa kecemasan konstan akibat ancaman serangan.
Sebelumnya, pada hari Sabtu, para pengungsi dari Oleshky yang tiba dalam kondisi kelelahan berhasil menyeberang ke wilayah Ukraina setelah menempuh perjalanan panjang dan berliku dari garis depan pertempuran.
Para pengungsi awalnya diberangkatkan menggunakan bus melalui Krimea wilayah yang dianeksasi Rusia pada 2014 menuju Kota Anapa di Rusia, sebelum diterbangkan ke Belarus dan melanjutkan perjalanan darat menuju Ukraina.
Komisaris Hak Asasi Manusia Rusia, Yana Lantratova, menjelaskan bahwa warga yang ingin meninggalkan Oleshky, baik yang memilih menuju wilayah kendali Rusia maupun Ukraina, mulanya diangkut menggunakan 25 bus dan sembilan ambulans ke Krimea sebelum akhirnya terbagi ke dalam konvoi terpisah.
Hingga kini, jumlah pasti warga yang memilih tetap tinggal di Oleshky kota yang berada di tepi Sungai Dnipro yang berhadapan langsung dengan Kota Kherson masih belum diketahui secara pasti.
Kendati demikian, para pejabat tinggi dari pihak Ukraina maupun Rusia mengonfirmasi bahwa gencatan senjata terpantau stabil tanpa adanya laporan pelanggaran sejak hari Selasa. Jeda pertempuran ini juga dimanfaatkan untuk melakukan sterilisasi ranjau di jalur-jalur transportasi serta mendistribusikan bantuan logistik berupa pangan dan obat-obatan ke dalam kota.
Di sisi lain, aktivitas militer dilaporkan masih terus berlangsung di beberapa wilayah lain di Ukraina pada hari Minggu. Gubernur regional dan layanan darurat setempat melaporkan setidaknya satu korban jiwa akibat serangan di wilayah Sumy yang berbatasan langsung dengan Rusia, serta satu korban jiwa lainnya di wilayah tengah Vinnytsia.









