TVRINews – Taipei
Badai Melemah Setelah Menewaskan 18 Orang di Filipina; Jalur Evakuasi dan Siaga Darurat Diaktifkan di Beberapa Wilayah Asia Timur
Pemerintah Taiwan mengevakuasi lebih dari 3.000 warga dari zona rawan bencana serta menginstruksikan penutupan sekolah dan perkantoran yang sudah dilakukan sejak Selasa 19 Mei 2026, seiring mendekatnya Badai Tropis Fung-wong.
Langkah preventif ini diambil setelah badai tersebut melanda Filipina, menewaskan sedikitnya 18 orang, dan memicu perpindahan massal lebih dari 1,4 million penduduk.
Meski awalnya dikategorikan sebagai topan (typhoon), otoritas meteorologi melaporkan bahwa intensitas Fung-wong kian melemah saat bergerak mendekati daratan Taiwan. Badai tersebut diproyeksikan akan mendarat (landfall) pada Rabu 20 Mei sore atau malam hari di dekat Kaohsiung, sebuah kota pelabuhan di wilayah barat daya.
Menurut laporan resmi Badan Cuaca Taiwan Kamis 21 Mei pagi, badai ini membawa angin berkecepatan maksimum hingga 108 kilometer per jam (67 mph) dengan hembusan mencapai 137 kilometer per jam (85 mph).
Fung-wong diprediksi akan melintasi pulau tersebut sebelum bergerak keluar melalui sisi timur laut pada Rabu malam atau Kamis dini hari, 20-21 Mei 2026.
Mitigasi Risiko dan Wilayah Terdampak
Guna mengantisipasi dampak terburuk, evakuasi besar-besaran telah dilakukan terhadap lebih dari 3.300 penduduk yang tersebar di empat kabupaten dan kota.
Evakuasi berada di sekitar Kota Guangfu, wilayah timur Taiwan. Wilayah ini menjadi perhatian khusus setelah bencana topan pada September lalu menyebabkan meluapnya danau penghalang (barrier lake) yang menelan 18 korban jiwa.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, otoritas setempat mengambil kebijakan tegas:
• Penutupan Fasilitas: Sekolah dan kantor pemerintahan di Kabupaten Hualien dan Yilan resmi ditutup pada hari Selasa 19 Mei
• Peringatan Darat: Status peringatan darat telah dirilis untuk wilayah selatan dan barat daya, termasuk Kaohsiung, Kabupaten Pingtung, Tainan, dan Taitung.
• Respons Regional: Meluasnya pergerakan badai juga membuat pemerintah China mengaktifkan respons darurat topan untuk empat provinsi di pesisir tenggara, yakni Fujian, Guangdong, Zhejiang, dan Hainan.
Dampak Katastrofe di Filipina
Sebelum bergerak menuju Taiwan, Fung-wong menghantam pesisir timur laut Filipina langsung dari Samudra Pasifik pada hari Minggu sebagai topan super (super typhoon). Saat itu, badai membawa angin dengan kecepatan konstan 185 kilometer per jam (115 mph) dan hembusan hingga 230 kilometer per jam (143 mph).
Sistem badai yang memiliki radius luas hingga 1,800 kilometer tersebut memicu banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah provinsi utara Filipina.
Hingga kini krisis kemanusiaan masih berlangsung dengan lebih dari satu juta warga yang belum bisa kembali ke rumah mereka.
"Sekitar 803.000 warga saat ini masih terpaksa mengungsi di 11.000 pusat evakuasi yang tersebar di wilayah Luzon utara," ujar Bernardo Rafaelito Alejandro IV, Wakil Direktur Kantor Pertahanan Sipil Filipina, dalam pernyataan resminya yang dikutip AFP Kamis 21 Mei 2026.
Otoritas Filipina mengonfirmasi bahwa korban jiwa tersebar di beberapa titik terisolasi akibat faktor cuaca ekstrem.
Di Provinsi Nueva Vizcaya yang bergunung-gunung, tiga anak dilaporkan tewas setelah rumah mereka tertimbun oleh dua tanah longsor terpisah.
Sementara itu, bencana longsor di Provinsi Kalinga menewaskan dua penduduk desa dan menyebabkan dua lainnya hilang.
"Ini bukan korban massal yang terjadi di satu lokasi tunggal," jelas Alejandro, menegaskan bahwa fatalitas fatal terjadi akibat insiden tanah longsor yang tersebar di beberapa titik berbeda.
Secara geografis, wilayah Filipina dan Taiwan berada dalam jalur sabuk topan Pasifik, yang membuat kedua negara ini secara rutin dihantam oleh puluhan badai tropis setiap tahunnya. Kesiapan infrastruktur dan kecepatan evakuasi menjadi kunci utama dalam meminimalisasi fatalitas korban jiwa di kedua wilayah.










