TVRINews – Tel Aviv
Unggahan video intimidasi terhadap tahanan armada bantuan Gaza oleh Itamar Ben-Gvir memicu protes diplomatik dari berbagai negara sekutu
Langkah Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan jauh, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang menampilkan perlakuan intimidasi terhadap aktivis kemanusiaan internasional memicu gelombang kecaman global.
Insiden ini menempatkan Israel dalam pusaran krisis diplomatik baru dengan sejumlah negara sekutu utamanya.
Video yang diunggah di akun media sosial pribadi Ben-Gvir tersebut memperlihatkan puluhan tahanan pria dan wanita dalam posisi berlutut dengan tangan terikat ke belakang.

(Menteri Israel berhaluan kanan jauh, Itamar Ben-Gvir, saat mengintimidasi dan mengejek para aktivis armada kemanusiaan yang ditahan. (Foto: BBC News))
Dalam rekaman tersebut, Ben-Gvir tampak mengibarkan bendera Israel sembari melontarkan kalimat ejekan kepada para tahanan yang merupakan bagian dari armada bantuan (flotilla) menuju Gaza.
Kecaman dari Para Pemimpin Dunia
Unggahan tersebut langsung memicu reaksi keras dari negara-negara yang warganya berada di dalam kapal bantuan tersebut, termasuk Inggris, Kanada, Jerman, Belanda, Spanyol, Irlandia, Australia, dan Selandia Baru.
Kritik tajam bahkan datang dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat negara tersebut.
"Tindakan Menteri Ben-Gvir sangat tercela dan telah mengkhianati martabat bangsanya sendiri," ujar Huckabee dalam pernyataan resminya.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, turut menyampaikan protes keras atas perlakuan yang menimpa warga negaranya yang berada dalam kelompok tersebut.
"Sangat tidak dapat diterima bahwa para demonstran ini, termasuk banyak warga negara Italia, menjadi sasaran perlakuan yang melanggar martabat manusia," tegas Meloni melalui pernyataan tertulis.
Meloni juga menuntut pembebasan segera seluruh warga Italia serta permintaan maaf resmi atas apa yang ia sebut sebagai "penghinaan total" terhadap pemerintah Italia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyatakan kekecewaannya terhadap visual yang beredar luas tersebut.
"Gambar yang kita lihat sangat mengejutkan dan tidak dapat diterima. Kami mengecam tindakan Menteri Ben-Gvir dan otoritas Israel terhadap mereka yang ditahan," kata Wong.
Investigasi Dugaan Kekerasan
Menurut laporan organisasi hak asasi manusia Adalah, yang mendampingi para korban, para aktivis menghadapi tindakan kekerasan sejak kapal mereka dicegat di perairan internasional pada hari Selasa 19 Mei 2026.
Tiga aktivis sempat dilarikan ke rumah sakit akibat cedera fisik sebelum akhirnya diperbolehkan rawat jalan.
"Tim kami melaporkan adanya pelanggaran sistemik terhadap proses hukum, serta kekerasan fisik dan psikologis yang meluas oleh otoritas Israel," sebut perwakilan Adalah dalam sebuah pernyataan resmi.
Laporan tersebut juga merinci adanya penggunaan peluru karet, alat kejut listrik (taser), hingga pemaksaan posisi fisik yang menyiksa selama proses penahanan di Pelabuhan Ashdod.
Armada kemanusiaan bernama Global Sumud Flotilla ini mengangkut lebih dari 400 aktivis dari 40 negara menggunakan 50 kapal.
Menolak blokade laut, kapal yang berangkat dari Turki ini bertujuan membawa pasokan makanan kemanusiaan ke Gaza, wilayah yang hingga saat ini masih menghadapi krisis pangan dan sanitasi parah pasca-gencatan senjata.
Keretakan di Internal Pemerintahan
Skandal ini memperlebar keretakan di dalam kabinet Israel sendiri. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung merilis pernyataan yang menjaga jarak dari tindakan menterinya tersebut.
"Cara Menteri Ben-Gvir memperlakukan para aktivis flotilla tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel," kata Netanyahu, seraya menambahkan bahwa ia telah memerintahkan deportasi para aktivis secepat mungkin.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, melayangkan kritik yang jauh lebih personal dan tajam melalui platform X.
"Anda dengan sengaja membawa kerugian bagi negara kita dalam pertunjukan yang memalukan ini dan ini bukan yang pertama kalinya. Anda bukan wajah Israel," tulis Saar.
Menanggapi kecaman rekan sejawatnya, Ben-Gvir justru memberikan jawaban menantang. "Israel telah berhenti menjadi pihak yang bisa diremehkan," balasnya.
Di sisi lain, Direktur Komite Publik Melawan Penyiksaan di Israel (PCATI), Sari Bashi, menilai bahwa video tersebut merefleksikan budaya impunitas yang mengkhawatirkan di lingkungan penahanan.
"Seorang penjaga penjara yang melihat pimpinan tertingginya menunjukkan rasa bangga atas penganiayaan tahanan asing tidak akan merasa ragu untuk melakukan hal serupa pada tahanan Palestina," jelas Bashi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Israel telah mengalihkan permohonan tanggapan kepada layanan penjara dan kementerian luar negeri, namun kedua lembaga tersebut belum memberikan komentar resmi.










