TVRINews, Teheran
Sengketa tarif Selat Hormuz dan cadangan uranium Teheran memicu kekhawatiran krisis pasokan energi global.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi jalan buntu.
Meski Teheran mengonfirmasi adanya kemajuan dalam draf proposal terbaru, pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran terkait stok uranium serta perselisihan mengenai tarif jalur laut di Selat Hormuz kini mengaburkan prospek perdamaian.
Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) melaporkan pada hari Kamis bahwa teks draf yang diajukan AS sejauh ini berhasil memperkecil perbedaan pandangan antara kedua belah pihak. Namun, media semi-resmi tersebut menekankan bahwa perkembangan lebih lanjut memerlukan penghentian retorika konfrontatif dari pihak Washington.
Di sisi lain, laporan dari Reuters menyebutkan adanya instruksi dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang melarang pengiriman cadangan uranium tingkat tinggi (near-weapons-grade) ke luar negeri.
Kebijakan ini langsung memicu reaksi pasar dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Sengketa Tarif Selat Hormuz
Tantangan baru muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap rencana Iran dan Oman untuk menerapkan sistem tarif permanen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Kami ingin jalur itu tetap terbuka dan bebas. Kami tidak menginginkan adanya tarif," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Kamis. "Itu adalah jalur perairan internasional, dan saat ini mereka tidak mengenakan biaya apa pun."
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperkuat posisi tersebut dengan menegaskan bahwa penerapan sistem penarikan tarif akan membuat kesepakatan bilateral dengan AS menjadi "tidak layak untuk dijalankan."
Dampak dari ketidakpastian politik ini langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah jenis Brent sempat berfluktuasi tajam, merosot lebih dari 1,5% di bawah $104 per barel setelah sebelumnya melonjak hingga 3%.
Fluktuasi ini terjadi di tengah laporan Goldman Sachs yang menyebutkan bahwa cadangan minyak mentah global saat ini menyusut dalam rekor kecepatan tertinggi akibat menipisnya pasokan penyangga dunia.
Tekanan Nuklir dan Syarat Gencatan Senjata
Secara prinsip, Washington secara konsisten menuntut agar Iran menyerahkan seluruh uranium yang diperkaya guna mengantisipasi pengembangan senjata atom serta berkomitmen untuk menghentikan aktivitas pengayaan selama minimal satu dekade.
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menolak klausul tersebut.
"Kami tidak akan pernah mundur," tegas Pezeshkian pada hari Kamis melalui platform media sosial X, seraya menambahkan, "Memaksa Iran untuk menyerah melalui paksaan hanyalah sebuah ilusi."
Di tengah kebuntuan ini, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan kembali syarat mereka, yakni komitmen total untuk menghentikan pertempuran di seluruh front, termasuk Lebanon, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan akibat sanksi ekonomi.
Dinamika Regional dan Peran Mediator
Upaya mediasi regional juga mengalami penundaan. Menurut laporan Al Arabiya yang mengutip sumber tingkat tinggi, Field Marshal Asim Munir dari Pakistan yang bertindak sebagai mediator konflik, menunda rencana kunjungannya ke Teheran tanpa penjelasan lebih lanjut.
Sementara itu, tensi politik sekutu AS juga memanas. Laporan dari Axios menyebutkan terjadinya pembicaraan yang tegang antara Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu berulang kali menyatakan ketidakpercayaannya terhadap kepatuhan Iran pada perjanjian damai dan mengisyaratkan perlunya melanjutkan serangan militer guna melemahkan kekuatan Iran.
Menanggapi situasi di Timur Tengah, Menteri Energi Israel Eli Cohen memperingatkan bahwa infrastruktur vital Iran akan menjadi sasaran utama jika eskalasi militer kembali pecah.
"Tahap berikutnya akan mencakup serangan terhadap target ekonomi dan situs energi—baik minyak, gas, maupun pembangkit listrik," kata Cohen dalam wawancaranya dengan radio Kim Baram.
Hingga saat ini, situasi di lapangan masih rapuh. Selain fokus pada isu nuklir, konflik di Lebanon antara militer Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran terus berlangsung melalui kontak senjata harian, mempersulit tercapainya stabilitas kawasan secara menyeluruh.










