TVRINews, Tel Aviv
Pasca-Kecaman Global, Tel Aviv Pulangkan Aktivis Kemanusiaan dan Jurnalis yang Ditangkap di Perairan Internasional.
Pemerintah Israel memutuskan untuk mendeportasi ratusan aktivis kemanusiaan asing yang sempat ditahan setelah militer mereka mencegat kapal bantuan menuju Jalur Gaza awal pekan ini. Langkah kilat ini diambil di tengah gelombang kecaman global yang kian memuncak terkait perlakuan aparat keamanan Israel terhadap para tahanan.
Di Istanbul, Turki, pada kamis 21 Mei 2026 suasana haru menyambut kedatangan 422 peserta flotila yang dievakuasi menggunakan penerbangan khusus. Beberapa di antaranya tampak mengenakan keffiyeh dan menyuarakan simbol perdamaian, disambut kibaran bendera Palestina oleh massa yang memadati bandara.
Selain warga negara Turki, kelompok terbang tersebut juga mengangkut puluhan warga negara asing lainnya, termasuk 37 warga Prancis dan sejumlah aktivis asal Spanyol serta Yordania.
Sikap Tegas dan Pembelaan Israel
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, mengonfirmasi bahwa seluruh aktivis asing yang tergabung dalam flotila tersebut telah dideportasi melalui Bandara Ramon di selatan Israel dan Bandara Ben Gurion di Tel Aviv. Meski demikian, pemerintah Israel tetap bersikap defensif terkait operasi militer tersebut.
"Israel tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade laut yang sah di Gaza," tegas Marmorstein dalam sebuah pernyataan resmi.
Pencegatan yang terjadi pada Selasa malam itu menyasar lebih dari 50 kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla saat mereka masih berada di perairan internasional.
Kesaksian Tindakan Kekerasan
Meskipun Israel bersikeras tindakan mereka sesuai prosedur hukum, kesaksian dari para aktivis yang dideportasi justru menunjukkan kondisi yang kontras. Julien Cabral, seorang warga negara Belgia berusia 57 tahun, tiba di Istanbul dengan luka memar di bagian mata dan pelipisnya akibat pukulan dari pasukan marinir Israel.
Kepada kantor berita AFP, Cabral mengisahkan bagaimana para aktivis mengalami intimidasi verbal, kekerasan fisik, hingga pembatasan akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan penanganan medis bagi yang terluka.
Senada dengan Cabral, Alessandro Mantovani, seorang jurnalis asal Italia yang turut ditahan, mengungkapkan kepada media di Roma bahwa dirinya dibawa ke bandara dalam kondisi tangan diborgol dan kaki dirantai.
"Mereka memukul, menendang, dan menampar kami sembari berteriak, 'Selamat datang di Israel'," ungkap Mantovani.
Sorotan pada Kontroversi Politik Internal
Tekanan internasional semakin diperparah oleh tindakan Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir. Melalui sebuah unggahan video di platform X, Ben-Gvir terlihat mengejek para aktivis yang tengah berlutut dengan tangan terikat ke belakang.
Video tersebut memicu kemarahan diplomatik. Negara-negara sekutu barat seperti Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal, dan Belanda langsung memanggil duta besar Israel di ibu kota masing-masing.
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyebut perilaku Ben-Gvir "sama sekali tidak dapat diterima." Italia bahkan melangkah lebih jauh dengan menuntut permintaan maaf resmi dan mendesak Uni Eropa untuk membahas sanksi terhadap menteri tersebut.
Situasi ini memicu reaksi internal yang langka dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang secara terbuka menegur menterinya.
"Israel memiliki hak penuh untuk mencegah flotila provokatif dari para pendukung kelompok Hamas memasuki perairan teritorial kami. Namun, cara Menteri Ben-Gvir memperlakukan para aktivis tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dianut Israel," ujar Netanyahu guna meredam situasi.
Analisis Pengamat dan Dampak Komunikasi Publik
Menurut lembaga hukum hak-hak warga Palestina di Israel, Adalah, proses deportasi kali ini berjalan jauh lebih cepat dibanding biasanya.
Koordinator Advokasi Internasional Adalah, Miriam Azem, menilai tindakan Ben-Gvir merupakan cerminan dari perlakuan sistemik yang selama ini dialami warga Palestina, namun kini mendapatkan panggung internasional karena korbannya melibatkan warga negara asing.
"Ini menunjukkan betapa otoritas Israel ingin menjadikannya sebagai tontonan," kata Azem kepada Al Jazeera.
Dari Ramallah, jurnalis Al Jazeera Nida Ibrahim melaporkan bahwa percepatan deportasi ini merupakan strategi damage control (pengendalian dampak) oleh Tel Aviv untuk meredam kerugian hubungan masyarakat akibat blunder video Ben-Gvir.
Ketegangan hukum domestik juga terlihat ketika seorang warga negara Israel, Zohar Regev, yang ikut dalam aksi tersebut, harus diadili di pengadilan Ashkelon dengan tuduhan memasuki wilayah Israel secara ilegal.










