TVRINews – Brussel
Komandan Tertinggi Aliansi Tegaskan Kesiapan Militer Menghadapi Ancaman Hibrida Moscow.
Aliansi Militer Transatlantik (NATO) bersiap menyampaikan peringatan terbuka kepada Rusia terkait kesiapsiagaan tempur serta kemampuan militer aliansi dalam menangkis setiap potensi agresi, akibat meningkatnya kekhawatiran global terhadap dinamika keamanan di Eropa.
Komandan Tertinggi Sekutu NATO untuk Eropa (Supreme Allied Commander Europe), Jenderal Alexus Grynkewich, dijadwalkan memaparkan kerangka strategi keselamatan atau "theory of victory" dalam sebuah konferensi keamanan di Warsawa, Polandia.
Pemaparan tersebut ditujukan untuk menegaskan kesiapan aliansi menghadapi rupa-rupa ancaman, termasuk aksi sabotase dan intervensi hibrida yang dinilai kerap menyasar negara-negara penyokong Ukraina.
Eskalasi ketegangan antara NATO dan Kremlin kian memuncak setelah munculnya serangkaian insiden keamanan di kawasan Eropa, salah satunya penemuan drone bermuatan bahan peledak di sebuah bandara di Jerman.
Juru Bicaranya, Kolonel Martin O’Donnell, menyatakan bahwa doktrin keselamatan yang diusung pimpinan NATO berfokus pada pemeliharaan keunggulan pertahanan dan daya tangkal aliansi.
"Teori kemenangan Komandan Tertinggi Sekutu Eropa sederhana: mempertahankan keunggulan NATO yang berakar pada rencana pertahanan dan penangkalan aliansi," ujar O’Donnell. Senin 12 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa situasi keamanan global yang makin dinamis menuntut NATO mengambil langkah antisipatif sejak dini.
"Mengingat lingkungan keamanan global yang tidak menentu dan kompleks, kami perlu menciptakan kondisi yang tepat dari sekarang untuk mencegah agresi dan, jika diperlukan, meraih kemenangan apabila diserang," tuturnya.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengimbau negara-negara anggota untuk tetap tenang namun waspada dalam menghadapi eskalasi ancaman non-konvensional.
"Kita tidak boleh naif terhadap Rusia, tetapi mereka tahu bahwa kita lebih kuat," kata Rutte.
Langkah penegasan posisi militer ini berlangsung di tengah fase krusial bagi pertahanan Eropa. Sejumlah negara anggota di benua tersebut kini berupaya memperkuat kapasitas militer domestik mereka guna mengantisipasi penyesuaian postur serta peninjauan ulang penyebaran pasukan Amerika Serikat di kawasan Eropa yang hasilnya diperkirakan diumumkan pada akhir tahun.










