TVRINews – Ankara,Turkey
Turki Jadi Standar Baru Industri Pertahanan Aliansi
Amerika Serikat mendesak negara-negara anggota NATO untuk meningkatkan kapasitas industri pertahanan mereka guna menyamai percepatan produksi kapal perang Turki. Seruan ini mengemuka menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang akan diselenggarakan di Ankara pekan depan.
Matthew Whitaker, Perwakilan Tetap AS untuk NATO pada Rabu 1 Juli 2026, menyoroti program pembangunan 50 kapal secara simultan di galangan kapal Turki sebagai tolok ukur ideal bagi sekutu lainnya. Ia menegaskan bahwa kemitraan pertahanan yang kuat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan geopolitik yang kian dinamis.
"Kami membutuhkan semua sekutu untuk lebih seperti Turki. Kami perlu terus memperkuat hubungan ini," ujar Whitaker dalam keterangannya, sebagaimana dikutip dari laporan Reuters.
Agenda KTT Ankara
Pertemuan di Ankara pada 7-8 Juli mendatang dijadwalkan akan membahas tiga isu krusial: pembagian beban pertahanan, kelanjutan perang di Ukraina, serta ketidakstabilan di Timur Tengah.
KTT ini menjadi momentum penting bagi para pemimpin aliansi untuk mengonversi komitmen belanja pertahanan yang disepakati di Den Haag tahun lalu menjadi aksi nyata, termasuk pengumuman kontrak senjata bernilai miliaran dolar.
Selain itu, KTT ini mencatat sejarah baru dengan sesi khusus yang melibatkan empat negara Teluk anggota Istanbul Cooperation Initiative. Fokus utama diskusi akan mencakup kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta tinjauan komprehensif terhadap titik konflik di Suriah, Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat.
Ketegangan dan Solidaritas
Terkait ketegangan pasca-operasi militer AS terhadap Iran yang sempat menguji solidaritas aliansi, Whitaker mengakui adanya perbedaan pandangan antaranggota. Meski sempat memicu gesekan diplomatik terkait izin pangkalan dan wilayah udara, ia menilai fase tersebut telah berlalu.
"Tidak ada keraguan bahwa Presiden telah mengungkapkan kekecewaan. Namun, hari-hari itu telah berlalu, untungnya," ungkap Whitaker, seraya menekankan pentingnya kohesi politik dan militer di masa depan.
Washington kembali menegaskan ekspektasi agar 32 negara anggota NATO bergerak menuju target belanja pertahanan sebesar 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Whitaker memberikan apresiasi kepada Jerman, Polandia, negara-negara Nordik, dan
Baltik atas kontribusi mereka, namun memperingatkan bahwa beberapa negara lain masih memerlukan peta jalan yang lebih kredibel.
Di sisi lain, Deputi Menteri Luar Negeri Turki, Levent Gumrukcu, dalam sebuah forum di Washington Institute for Near East Policy, menyoroti perlunya otonomi strategis Eropa. "Kita perlu membuat NATO lebih Eropa," tegasnya.
Ia menekankan bahwa di tengah situasi Timur Tengah yang "sangat rapuh dan volatil," NATO harus menyeimbangkan antara kesiapan militer dan peluang diplomasi politik.
Menutup keterangannya, Whitaker memastikan bahwa meskipun AS terus melakukan peninjauan postur militer global, komitmen Washington terhadap keamanan Eropa tetap tak tergoyahkan. "Amerika Serikat tidak akan pergi ke mana-mana, namun kami memiliki tanggung jawab secara global," pungkasnya.










