TVRINews – La Guaira, Venezuela
Fasilitas medis kewalahan menangani lonjakan korban luka dan risiko wabah penyakit pascagempa.
Hampir sepekan setelah dua gempa bumi berkekuatan besar mengguncang negara itu, rumah sakit yang rusak dan kekurangan tenaga medis dilaporkan kewalahan menangani lonjakan pasien serta ancaman wabah penyakit di zona bencana.
Data pemerintah per selasa 30 Juni 2026, menunjukkan penurunan drastis dalam upaya penyelamatan. Setelah berhasil mengevakuasi 5.380 orang dalam dua hari pertama, otoritas hanya menemukan empat korban selamat pada Senin 29 Juni lalu.
Meski peluang bertahan hidup setelah 72 jam tergolong rendah, sebuah keajaiban terjadi ketika seorang balita berhasil diselamatkan setelah terperangkap selama enam hari di bawah reruntuhan bangunan, sebagaimana dikonfirmasi oleh Ketua Majelis Nasional, Jorge Rodríguez.
Angka resmi pemerintah mencatat jumlah korban tewas telah melampaui 1.900 jiwa. Namun, para ahli memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan besar jauh lebih rendah dari kenyataan di lapangan, mengingat proses evakuasi jenazah yang masih terus berlangsung dan keterbatasan kapasitas kamar jenazah.
Krisis Kemanusiaan dan Tekanan Medis
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa sistem kesehatan Venezuela, yang telah lama terkendala kurangnya investasi dan krisis ekonomi berkepanjangan, kini menghadapi tekanan ekstrem.
"Fasilitas kesehatan beroperasi melampaui kapasitasnya karena lonjakan kasus trauma," ujar juru bicara WHO, Christian Lindmeier, dalam sebuah pengarahan media di Jenewa.
Menurut laporan PBB, sekitar 1,2 juta ton puing bangunan menumpuk di zona terdampak. Kondisi ini diperparah dengan ribuan warga yang terpaksa mengungsi di tempat terbuka atau tenda penampungan yang tidak higienis.
Juru bicara badan pengungsi PBB, Carlotta Wolf, mengungkapkan bahwa sekitar 15.800 orang telah kehilangan tempat tinggal dan jumlah tersebut diprediksi terus meningkat.
Risiko Penyakit Menular
Ketiadaan fasilitas sanitasi dasar seperti air bersih, toilet, dan sabun meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Lindmeier memperingatkan bahwa rendahnya tingkat vaksinasi di populasi membuat risiko wabah campak, demam berdarah, demam kuning, hingga malaria menjadi ancaman nyata.
Pemerintah melaporkan bahwa 38 rumah sakit mengalami kerusakan akibat gempa. Dari 21 fasilitas yang telah dievaluasi oleh WHO, tiga di antaranya dinyatakan tidak lagi beroperasi, sementara sisanya berjuang di tengah keterbatasan personel.
Banyak dokter spesialis dilaporkan turut menjadi korban dalam bencana ini, memperburuk krisis tenaga medis di negara yang dalam beberapa tahun terakhir telah ditinggalkan oleh jutaan tenaga profesional akibat krisis ekonomi.
"Temuan kami mengungkap layanan medis yang kacau, alur pasien yang tidak teratur, serta penumpukan operasi yang signifikan," tambah Lindmeier.
Ketidakpastian Data Korban
Di tengah situasi darurat, transparansi data pemerintah menjadi sorotan. Tanpa daftar resmi mengenai orang hilang, masyarakat Venezuela terpaksa mengandalkan grup WhatsApp dan basis data sukarela. Salah satu registrasi digital bahkan mencatat setidaknya 43.220 orang dinyatakan hilang.
Meskipun Jorge Rodríguez mendesak publik untuk hanya mengandalkan informasi resmi, selisih data yang besar antara estimasi pemerintah dan analisis pihak luar seperti NASA yang memprediksi hampir 59.000 bangunan rusak menciptakan ketidakpastian mendalam.
Sementara itu, UNICEF melaporkan bahwa 680.000 anak di seluruh negeri kini sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.










